Kecelakaan terjadi, namun tak diikuti prosedur hukum standar
Barang bukti justru “dibersihkan” dari lokasi
Nama pemilik muatan disebut terang-terangan
Semua ini mengarah pada satu dugaan serius: ada pembiaran, atau lebih jauh—ada perlindungan.
Hukum Tajam ke Bawah, Tumpul ke Atas?
Di tengah masyarakat, kemarahan mulai terasa. Kasus ini dianggap mempertegas realitas pahit.
Hukum hanya berani menyasar yang lemah, dan mendadak kehilangan taring saat berhadapan dengan yang kuat.
Nama Liku terus berulang dalam berbagai kasus, namun tanpa ujung yang jelas.
Tak ada klarifikasi, tak ada bantahan, hanya diam.
Dan justru dari diam itulah, kecurigaan publik semakin membesar.
Kepercayaan Publik di Ujung Tanduk
Kasus ini kini bukan lagi soal satu truk, satu kecelakaan, atau satu pengusaha. Ini tentang wajah penegakan hukum itu sendiri.
Ketika:
Barang bukti bisa hilang di depan mata
Nama yang sama terus muncul tanpa konsekuensi
Aparat terlihat pasif di tengah pelanggaran nyata
Maka yang runtuh bukan hanya rumah warga, tapi juga kepercayaan masyarakat.
Pertanyaan yang Tak Bisa Lagi Dihindari
Semua benang merah mengarah pada satu titik: “Liku.”
Dan selama nama itu terus muncul tanpa pernah benar-benar diproses, satu pertanyaan akan terus menghantui:
Apakah hukum masih berdiri tegak, atau sudah memilih siapa yang boleh disebut?.(b5)












