Berita

Murah, Mudah, dan Tanpa Pengawasan: Kos Toniwen Ini Diduga Jadi Ruang Bebas Praktik Prostitusi Pelajar

169
×

Murah, Mudah, dan Tanpa Pengawasan: Kos Toniwen Ini Diduga Jadi Ruang Bebas Praktik Prostitusi Pelajar

Sebarkan artikel ini

Oleh: Broaldo
PANGKALPINANG, Berita5.co.id — Di sebuah sudut kota yang tak pernah benar-benar tidur, ada bangunan yang justru “hidup” saat sunyi mengambil alih.

Tidak ada papan nama. Tidak ada resepsionis. Tidak ada sapaan. Hanya pintu-pintu kamar tertutup rapat, dan sebuah sistem yang dirancang untuk tak terlihat.

Di balik itulah, praktik yang lebih dari sekadar pelanggaran norma diduga berlangsung. Ini bisa disebut prostitusi terselubung yang melibatkan oknum pelajar.

Malam itu, lampu-lampu jalan memantul di dinding ruko lima lantai di Jalan Solihin GP atau Jalan Toni Wen Pangkalpinang yang tampak biasa saja. Tidak ada aktivitas mencolok.

Namun, menurut penelusuran tim investigasi, justru di sinilah transaksi “senyap” itu berlangsung, tanpa tatap muka, tanpa identitas, tanpa jejak fisik.

“Cukup transfer, nanti dikirim kode akses,” ujar Ujang (nama samaran), seorang informan yang mengaku mengetahui pola operasional tempat tersebut.

Tarifnya relatif murah,  mulai Rp60 ribu hingga Rp100 ribu. Setelah pembayaran, pelanggan menerima kode digital melalui WhatsApp.

Tak ada kunci konvensional. Tak ada petugas. Hanya keypad di pintu dan instruksi singkat. Sekali tekan, pintu terbuka.

Sederhana. Cepat. Dan nyaris tak terlacak. Namun yang membuat investigasi ini mengarah pada kekhawatiran serius bukan sekadar sistemnya, melainkan siapa yang menggunakannya.

Dari pengamatan lapangan dan keterangan sumber, sebagian pengguna diduga masih berstatus pelajar SMA dan SMK.

“Banyak yang masih muda. Ada yang bahkan datang pakai seragam sekolah,” ungkap Ujang.

Pernyataan itu diperkuat oleh Jame (nama samaran), seorang pelajar yang mengaku pernah mengetahui aktivitas di dalam penginapan tersebut. Ia menyebut tempat itu menjadi “favorit” karena murah dan aman.

“Aman, karena tidak ada orang. Masuk pakai kode, ambil kunci sendiri. Jadi tidak ketahuan,” katanya.

Kondisi ini menciptakan ruang tanpa pengawasan, sebuah celah yang dimanfaatkan bukan hanya untuk hubungan terlarang, tetapi juga diduga untuk praktik prostitusi di kalangan remaja.

Dalam tiga bulan pertama tahun 2026, setidaknya lima siswi SMA/SMK di Pangkalpinang dilaporkan hamil.

Meski belum ada bukti langsung yang mengaitkan kasus-kasus tersebut dengan lokasi ini, dugaan keterhubungan mulai menguat.

Bukan sekadar angka, ini adalah alarm. Jika benar ada keterlibatan anak di bawah umur dalam praktik prostitusi, maka persoalan ini telah bergeser dari sekadar pelanggaran moral menjadi dugaan eksploitasi seksual anak, sebuah kejahatan serius dengan konsekuensi hukum berat.

Di sisi lain, pihak pengelola penginapan terkesan mengambil jarak dari apa yang terjadi di dalam kamar-kamar yang mereka sewakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *