“Yaomi ini bukan pemain baru. Dia jarang muncul di lapangan, tapi orang-orangnya bergerak. TY salah satunya,” ujar sumber tersebut.
Struktur yang digunakan diduga berlapis—mulai dari pengumpul di tambang, koordinator lapangan seperti TY, hingga kurir seperti DV.
Pola ini membuat aktor utama sulit disentuh, sementara pelaku lapangan kerap menjadi pihak yang lebih dulu terseret hukum.
Pelabuhan Rawan, Pengawasan Diperketat
Pelabuhan Tanjung Ruu kembali menjadi sorotan sebagai salah satu titik rawan kebocoran timah ilegal dari Pulau Belitung.
Aktivitas keluar-masuk barang yang tinggi kerap dimanfaatkan jaringan untuk menyusupkan komoditas bernilai tinggi tersebut.
Satgas Tricakti mengaku telah melakukan pengintaian intensif sebelum penindakan dilakukan.
Penangkapan ini disebut sebagai bagian dari upaya memutus rantai distribusi timah ilegal yang selama ini merugikan daerah.
Barang bukti bersama sopir kini diamankan di Gedung Barang Temuan (GBT) untuk proses hukum lebih lanjut.
Meski nama Yaomi telah disebut dalam pengakuan sopir, publik kini menunggu sejauh mana aparat penegak hukum berani menelusuri hingga ke level atas.
Kasus-kasus sebelumnya menunjukkan bahwa pengungkapan jaringan timah ilegal kerap berhenti di level operator lapangan.
Jika pola itu kembali terulang, maka nama Yaomi berpotensi hanya menjadi catatan tanpa tindak lanjut.
Namun jika ditelusuri serius, kasus ini bisa menjadi pintu masuk untuk membongkar jaringan yang lebih besar—yang selama ini bermain rapi di balik lalu lintas timah ilegal antar pulau.
Kasus ini pun menjadi ujian nyata: apakah penegakan hukum akan berhenti pada sopir dan koordinator lapangan, atau benar-benar menyentuh sosok yang disebut sebagai “bos besar” di balik layar.
Hingga berita ini dinaikkan, tim media masih berusaha mengkonfirmasi kepada Yaomo, Bos Timah asal Toboali untuk mendapatkan klarifikasi dari Yaomi. (*/b5)












