Camat Parit Tiga menyebut bantuan tenda pasar Ramadhan memperkuat ekonomi sekaligus toleransi.
“Pasar Ramadhan kini belasan lapak. Etnis Tionghoa dan umat Islam berdagang bersama. Ini bukan hanya ekonomi, tapi toleransi yang hidup.”
Seorang ibu penerima santunan berkata lirih,
“Bantuan ini bukan hanya beras. Ini tanda bahwa kami tidak sendiri.”
Seorang pedagang menambahkan,
“Di Puput kami berdagang tanpa melihat agama. Kalau satu susah, semua membantu.”
Kesaksian warga menjadi bukti bahwa santunan sosial tidak hanya mengisi perut, tetapi mengisi rasa aman.
Dalam literatur sosial Indonesia, praktik santunan sosial sering menjadi sarana memperkuat solidaritas antar komunitas.
Penelitian tentang kerukunan umat beragama oleh Kementerian Agama Republik Indonesia menunjukkan bahwa kegiatan keagamaan bersama dan bantuan sosial lintas komunitas meningkatkan indeks toleransi masyarakat.
Kajian akademik dari Universitas Gadjah Mada dalam jurnal sosial-budaya juga mencatat bahwa ekonomi kolektif di pasar Ramadhan memperkuat interaksi lintas identitas dan mengurangi konflik sosial.
Sementara laporan media nasional seperti Kompas dan Tempo berulang kali menyoroti bahwa program santunan sosial pemerintah daerah dapat meningkatkan kepercayaan publik dan stabilitas sosial.
Makna penelitian itu terasa nyata di Desa Puput bahwa bantuan sosial menjadi diplomasi kemanusiaan.
Safari Ramadhan di Puput menjadi panggung pencitraan humanis Pemkab Bangka Barat.
Bukan sekadar bantuan, tetapi narasi bahwa pemerintah hadir dengan empati.
Kepala Desa Puput berkata,
“Kehadiran Bupati, Wakil Bupati, Sekda, dan pejabat lainnya membuktikan desa tidak berjalan sendiri.” jelasnya.
Di bawah lampu Masjid Baitussalam, citra pemerintah bukan lagi papan nama kantor. Ia menjadi tangan yang memberi sembako, telinga yang mendengar keluh warga dan doa yang dipanjatkan bersama.
Safari Ramadhan ditutup doa bersama.
Tidak ada tepuk tangan panjang, hanya kesunyian yang hangat.
Di luar masjid, bulan sabit menggantung seperti saksi bahwa santunan sosial adalah politik paling lembut yaitu politik kasih sayang.
Di Desa Puput malam itu, Ramadhan tidak hanya dibacakan.
Ia dibagikan dalam sembako.
Ia dihamparkan dalam sajadah.
Ia dihidupkan dalam pasar.
Pemkab Bangka Barat menegaskan satu hal bahwa toleransi bukan slogan, tetapi pekerjaan yang dirawat setiap hari dengan santunan, dengan keadilan dan dengan cinta pada manusia. (b5)












