Penulis: Belva Al Akhab dan Satrio
BANGKABARAT, Berita5.co.id — Pemerintah Kabupaten Bangka Barat menegaskan komitmen pencitraan santunan sosial dan toleransi beragama melalui Safari Ramadhan 1447 H/2026 di Masjid Baitussalam, Desa Puput, Kecamatan Parit Tiga, Jumat (28/02/2026).
Bupati Bangka Barat Markus, S.H. menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar agenda keagamaan, tetapi strategi sosial untuk merawat persatuan masyarakat multikultural sekaligus memperlihatkan kehadiran pemerintah yang humanis.
“Safari Ramadhan ini bukan sekadar kunjungan. Ini cara kami mendengar napas rakyat dan memastikan pemerintah hadir bukan hanya dalam program, tetapi dalam rasa,” ujar Markus.
Ia menegaskan Desa Puput pernah dinobatkan sebagai desa kerukunan beragama sebagai sebuah simbol yang menurutnya, harus dijaga sebagai identitas Bangka Barat di tengah tantangan zaman.
“Kalau kita kehilangan toleransi, yang runtuh bukan hanya rumah ibadah, tapi rumah kemanusiaan kita sendiri.” jelasnya.
Pernyataan itu menjadi inti pesan Safari Ramadhan bahwa santunan sosial dan toleransi sebagai wajah pembangunan manusia.
Safari Ramadhan di Baitussalam diisi penyaluran bantuan lintas sektor dari Pemkab Bangka Barat, BAZNAS Bangka Barat, PT Timah dan Bank Sumsel Babel.
BAZNAS Bangka Barat: bantuan uang tunai untuk 20 warga
Kesra Bangka Barat: kipas angin, sajadah sholat, vacuum cleaner, Al-Qur’an, perlengkapan masjid
Bank Sumsel Babel: 10 paket sembako
PT Timah: 30 paket sembako
Ketua BAZNAS Bangka Barat Drs. Lili Suhendra NATO menegaskan zakat harus hadir sebagai energi sosial.
“Zakat bukan sekadar angka. Ia adalah doa yang menjadi beras, menjadi harapan. Ketika zakat hadir di Desa Puput, ia menjahit iman dan toleransi menjadi satu kain persaudaraan.”
Wakil Ketua Pengumpulan H. Hasyim Baharudin menambahkan sinergi pemerintah dan perusahaan memperluas manfaat zakat.
“Kolaborasi ini membuktikan santunan sosial bisa menjadi kekuatan persatuan umat.”
Wakil Ketua Keuangan H. Zumrowi Achyar menekankan transparansi.
“Setiap rupiah zakat adalah amanah masyarakat. Kami memastikan bantuan sampai kepada mereka yang membutuhkan.”
Wakil Ketua Administrasi H. Nurzali Hamid menyebut santunan sebagai perekat sosial.
“Bantuan ini tidak melihat agama atau suku. Yang dilihat adalah manusia.”
Anggota BAZNAS yang turut menyalurkan bantuan, Wasis Utama Edi, mengaku melihat makna toleransi di wajah warga.
“Saya melihat senyum penerima bantuan seperti pelukan lintas iman. Di Desa Puput, santunan menjadi bahasa persaudaraan.”
Desa Puput dan Realitas Toleransi Beragama
Dari sudut investigatif, Desa Puput memang memiliki sejarah keragaman. Warga Tionghoa, Melayu dan Jawa hidup berdampingan.
Di Pasar Ramadhan, kolak pisang berdampingan dengan kue keranjang. Transaksi menjadi bahasa damai yang sederhana.












