Penulis: RADAKBABEL
JEBUS, Berita5.co.id – Kini, teka-teki siapa dalang di balik operasi senyap penyelundupan 90 ton pasir timah itu kian mengerucut.
Dua nama mencuat dan menjadi sorotan. Dia adalah Ang, yang disebut-sebut sebagai pemodal utama sekaligus pemilik kapal dan dermaga, serta Tomo, figur yang diduga mengendalikan seluruh teknis lapangan.
Sejumlah sumber menyebut pola operasi di Kampak Jebus bukan hal baru.
Modelnya disebut menyerupai praktik di Pantai Mentigi, Desa Teluk Limau, Kecamatan Parittiga.
“Lempar batu sembunyi tangan. Aktor besar tak pernah muncul, tapi semua dikendalikan,” ujar seorang sumber.
Jika dulu nama Henky alias Cebol disebut sebagai koordinator lapangan di lokasi berbeda, kini peran itu diduga dipegang Tomo di Kampak.
Tomo disebut sebagai tangan kanan Ang. Ia mengatur bongkar muat, memobilisasi ratusan warga, hingga mendistribusikan upah.
Dalam operasionalnya, ia dibantu Mul dan Saparudin yang mengatur pembayaran kepada para pemikul.
Skemanya rapi. Datang mendadak. Malam hari. Cepat. Lalu hilang.
Uang Mengalir, Warga Terlibat
Ketua RT 003 Dusun Kampak, Dedi, tak menampik aktivitas tersebut terjadi di wilayahnya. Bahkan ia ikut memikul.
“Upahnya Rp500 per kilo. Total sekitar Rp50 juta dibagi. Setahu kami kapal dan dermaga itu milik Ang,” katanya.
Ia menyebut kegiatan berlangsung tiba-tiba pada malam hari. Timah diduga berasal dari wilayah Parittiga.
Kepala Dusun Kampak, Hasim, membenarkan Tomo datang meminta izin penggunaan dermaga.
“Mereka bilang cuma sekali pakai. Katanya nanti dermaga bisa untuk warga mancing. Ternyata dipakai bongkar timah,” ujarnya.
Hasim mengungkap total pembayaran warga mencapai Rp 45 juta, ditambah Rp5 juta bonus.
Bahkan sebagian dibagikan kepada lansia dan janda. Bagi warga, itu rezeki dadakan. Bagi aparat, itu jejak transaksi.
Mul: “Saya Cuma Bantu Tomo”












