Penulis: Belva Al Akhab, Satrio
MENTOK, Berita5.co.id — Di sebuah ruang rapat yang sederhana, langkah besar itu dimulai. Bukan dengan dentuman alat berat atau riuhnya pembangunan fisik, melainkan dengan dialog, harapan, dan suara masyarakat yang perlahan menyatu dalam satu visi: menghidupkan kembali denyut sejarah Kota Tua Mentok.
Pemerintah Kabupaten Bangka Barat resmi membuka babak awal pembangunan kawasan Kota Tua Mentok melalui kegiatan sosialisasi yang digelar pada Senin (13/4/2026).
Namun lebih dari sekadar agenda formal, momen ini menjadi simbol komitmen pemerintah dalam membangun dengan hati mendengar sebelum melangkah, merangkul sebelum membangun.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Sidarta Gautama, S.STP., M.Si, menegaskan bahwa sosialisasi ini adalah fondasi utama dalam memastikan pembangunan berjalan bukan hanya secara struktural, tetapi juga sosial.
“Sosialisasi ini merupakan bagian dari tahapan awal pelaksanaan proyek, tepatnya dalam fase persiapan. Yang paling penting adalah memberikan pemahaman kepada masyarakat, instansi, dan lembaga yang terdampak langsung,” ujarnya.
Di dalam forum itu, pemerintah tidak sekadar menyampaikan rencana. Mereka membuka ruang. Ruang bagi masyarakat untuk berbicara, menyampaikan harapan, bahkan kegelisahan.
Rencana pembangunan Kota Tua Mentok dipaparkan secara terbuka dari konsep, tahapan pelaksanaan, hingga manfaat jangka panjang yang diharapkan mampu mengangkat wajah kota menjadi lebih modern, tertata dan berdaya saing.
Namun yang paling mencolok bukanlah paparan itu sendiri, melainkan respons masyarakat.
Antusiasme hadir, bukan sebagai euforia kosong, tetapi sebagai tanda bahwa masyarakat telah lama menunggu perubahan.
“Alhamdulillah, banyak masukan positif. Ini menunjukkan masyarakat benar-benar mendambakan perubahan wajah Kota Mentok menjadi lebih modern, rapi dan tertata,” ungkap Sidarta.
Masukan demi masukan mengalir. Sebagian menguatkan, sebagian mengingatkan. Semua menjadi bahan bakar bagi arah pembangunan yang lebih inklusif.
Apa yang sedang dirancang bukan sekadar pembangunan fisik kawasan, melainkan transformasi ruang hidup.
Kota Tua Mentok yang menyimpan jejak sejarah panjang tidak hanya akan dipoles, tetapi dihidupkan kembali sebagai pusat peradaban yang selaras antara masa lalu dan masa depan.
Dalam kerangka ini, pemerintah menegaskan satu hal penting bahwa masyarakat bukan penonton.
Mereka adalah bagian dari proses.












