Sementara itu, dokumentasi lainya menunjukkan air setinggi lutut perempuan dewasa, dengan rumah-rumah yang tampak bertahan pasrah.
Banjir hari itu bukan hanya peristiwa alam. Ia adalah potret bagaimana warga berjalan jauh lebih cepat dibanding pembangunan yang seharusnya menyertai mereka.
Di balik air yang naik, ada cerita-cerita kecil yang jarang masuk laporan resmi.
Seorang ibu menggendong bayinya tinggi-tinggi saat berpindah dari satu rumah ke rumah lain, sementara seorang lelaki tua memegang ember kosong untuk menimba air yang tidak kunjung surut.
Di sudut rumah lain, seorang anak menarik raket nyamuk dengan pasrah, mengetahui bahwa genangan seperti ini selalu menjadi pesta bagi serangga.
Kampung Tanjung bukan tak mau berubah ia hanya terlalu lama mengharapkan perubahan datang dari arah yang salah.
Penduduknya tumbuh dengan pemahaman bahwa banjir adalah bagian dari hidup, sebuah musuh lama yang tak pernah diusir sepenuhnya.
Tapi hari ini, ketika air masuk hingga ke ruang tamu dan kamar tidur, kemanusiaan mereka berteriak lebih keras:
Mereka butuh kepastian bahwa kampung ini layak ditinggali.
Warga meminta Pemerintah Daerah Kabupaten Bangka Barat segera:
Menormalisasi drainase
Membersihkan saluran yang tersumbat sedimen dan sampah
Rekonstruksi sistem pembuangan air
Menyusun mitigasi permanen untuk banjir pesisir
Tidak ada kata lain selain “mendesak”.
Bagi warga Kampung Tanjung, setiap menit air bertahan adalah menit kehidupan yang hilang.
Banjir mungkin surut siang nanti tetapi kecemasan bahwa ia akan kembali, itu yang tidak pernah benar-benar pergi.












