Penulis: Satrio, Belva Al Akhab dan Tim
MENTOK, Berita5.co.id — Dalam diam dan lumpur yang belum sempat mengering, Kampung Tanjung menyimpan cerita kemanusiaan yang jarang muncul di panggung pemberitaan. Ketika banjir setinggi betis orang dewasa meluap dari bibir laut hingga masuk ke sela-sela rumah warga, kehidupan di pesisir itu seperti ditarik mundur ke titik paling rapuh. Bau asin bercampur tanah yang teranduk gelombang masih menggantung di udara, menyisakan jejak bencana yang tak diundang.
Di tengah suasana itu, Minggu 7 Desember 2025, seorang perempuan datang tanpa suara. Fadilah nama yang sederhana seperti orangnya muncul tanpa protokol, tanpa awak media, tanpa kamera yang berlomba menangkap simpati. Ia datang seperti seseorang yang mengunjungi rumah kerabat, seperti seseorang yang merasa terpanggil bukan karena sorotan, tetapi karena manusia lain sedang dalam kesusahan.
Ia membuka pintu belakang mobilnya sendiri, mengangkat karung-karung beras dengan kedua tangannya. Sesekali napasnya terengah, tetapi ia tetap tersenyum kepada warga yang menyambutnya dengan raut letih namun penuh harap. Tak ada pengeras suara, tak ada pernyataan resmi. Hanya langkah-langkah kecil yang menapaki jalan licin penuh genangan.
“Beliau bukan pejabat, bukan orang politik. Tapi hatinya lebih cepat datang daripada sirene bantuan pemerintah,” ujar seorang ibu, sambil mempererat genggaman di dua karung beras yang baru diterimanya. Suaranya bergetar antara lelah, syukur, dan lega.
Saat menyambangi salah satu rumah yang dinding papan kayunya mulai mengelupas tergerus air, Fadilah memilih duduk sejenak di tikar plastik lembap yang digelar seadanya. Ia tak ragu meletakkan kedua tangannya di atas lutut seorang nenek yang bercerita tentang malam saat banjir merayap masuk, makanannya hanyut, dan lampunya mati.
Fadilah mendengarkan tanpa tergesa. Seolah ia memahami bahwa kadang, bantuan terbesar bukanlah barang yang diantar, melainkan telinga yang mau mendengar. “Kami merasakan betul kesulitan saudara-saudara kita. Bantuan ini mungkin tak besar, tapi ia datang dari ketulusan,” ucapnya pelan, seperti seseorang yang bicara pada dirinya sendiri, bukan pada kamera.
Warga yang menyaksikan momen itu mengatakan mereka tak melihat seorang dermawan, tetapi seorang manusia yang benar-benar hadir.
“Kalau bukan karena beliau, keluarga saya mungkin tak makan hari ini. Orang seperti Fadilah ini langka. Tidak banyak bicara, tapi membuat kita merasa dianggap.” ujar seorang bapak nelayan, matanya sembab oleh kelelahan sekaligus syukur.
Banjir bukanlah tamu baru di Kampung Tanjung. Setiap tahun, laut yang mendekat seolah menguji ketahanan warga yang hidup di garis batas antara air dan daratan. Dari anak-anak yang tetap tertawa di tengah kubangan, hingga orang dewasa yang diam menghitung kerugian, semuanya menjadi potret kecil bahwa kehidupan di pesisir adalah perjuangan yang sunyi.
Di tengah itulah, beras yang dibawa Fadilah berubah menjadi simbol besar. Bukan sekadar bulir padi, tetapi simbol keberlanjutan hidup. Bantuan ini seperti tangan yang terulur pada saat paling genting, menegaskan bahwa kemanusiaan tidak selayaknya menunggu komando atau musim politik.












