Berita

Ketika Air Laut Masuk ke Rumah: Drama Setengah Meter di Kampung Tanjung yang Tak Pernah Selesai

128
×

Ketika Air Laut Masuk ke Rumah: Drama Setengah Meter di Kampung Tanjung yang Tak Pernah Selesai

Sebarkan artikel ini

Penulis: Satrio, Belva Al Akhab dan Tim

MENTOK, Berita5.co.id — Banjir setinggi hampir setengah meter kembali menelan lorong-lorong sempit di pesisir Kampung Tanjung, Kecamatan Mentok, Minggu (7/12/2025) pagi.

Air cokelat susu itu merangkak dari bibir laut, mendesak masuk ke celah-celah rumah kayu, mengubah halaman menjadi kubangan, dan menyisakan hanya atap rumah sebagai tanda bahwa ini masih sebuah pemukiman manusia bukan rawa dadakan.

Dalam dokumentasi yang diambil warga, genangan tampak memenuhi gang sempit dan jalan depan rumah.

Anak-anak berdiri di ambang pintu yang hampir tenggelam, sementara pakaian basah tergantung di teras sebagai bukti bahwa kehidupan terus berjalan meski air tak lagi mau menyingkir.

Di frame lain, dua perempuan berdiri dalam air selutut sambil menatap kosong, seolah menimbang sudah berapa lama kampung ini seperti ini, dan sampai kapan akan terus begini?

Banjir kali ini bukan fenomena baru tetapi ia datang lebih cepat, lebih tinggi, dan lebih menyengat rasa lelah warga.

Curah hujan yang sangat deras dan air pasang yang naik bersamaan membuat genangan menguasai pemukiman dalam hitungan menit.

Namun warga sepakat masalah paling nyata bukan hujan atau laut, melainkan saluran air yang sudah nyaris tidak bekerja.

“Iya, tiap kali hujan turun bareng pasang, kami pasti tenggelam begini,” kata Ibu Beni, Ketua RT setempat, sambil mengangkat selembar kain yang ia jemur tinggi-tinggi agar tak menyentuh air.

“Drainase kami sudah sempit, tersumbat, dan tidak lagi mampu menampung air. Kami warga sudah bersih-bersih sendiri, tapi ini sudah bukan kerja satu kampung. Ini butuh tangan pemerintah.” tambahnya.

Ibu Beni menegaskan permintaan yang paling mendasar bukan bantuan mie instan, bukan kasur gulung tetapi perbaikan total sistem drainase sebagai akar masalah.

“Kami berharap pemerintah turun, bukan hanya meninjau, tapi benar-benar menormalisasi saluran. Kalau drainase dibenahi, insya Allah banjir bisa berakhir,” ujarnya.

Meski belum ada laporan korban jiwa, warga merasakan hantaman secara ekonomi.

Barang elektronik rusak. Perabot mengapung. Aktivitas kerja terhenti. Anak-anak tidak bisa keluar rumah.

Di gang sempit yang tampak pada foto pertama, seorang bocah berdiri di ambang pintu, menatap air yang hampir menyentuh lantai rumahnya adegan kecil yang memuat beban besar yaitu ketidakpastian masa depan bagi kampung pesisir yang dikepung air dari segala sisi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!