Berita

Jejak Gelap Jual Beli Solar di Belitung: Mulai Dari Kapal Tanker, SPBU, dan Dugaan Pembiaran Aparat, Pian Disebut Bos Besar

650
×

Jejak Gelap Jual Beli Solar di Belitung: Mulai Dari Kapal Tanker, SPBU, dan Dugaan Pembiaran Aparat, Pian Disebut Bos Besar

Sebarkan artikel ini

Laporan: Radak5

BELITUNG, RADAKBABEL.COM —
Di balik kelangkaan solar subsidi yang kerap dikeluhkan nelayan dan pelaku usaha kecil di Pulau Belitung, tersimpan praktik gelap yang diduga telah lama berdenyut di jalur laut dan darat.

Solar ilegal yang bersumber dari praktik “kencingan” kapal tanker serta penyelewengan distribusi di SPBU dan SPBN diduga mengalir deras ke gudang-gudang penampungan hingga ke tangan para penambang ilegal.

Hasil penelusuran tim investigasi Radakbabel.com menguatkan dugaan bahwa peredaran solar subsidi di Belitung bukan sekadar ulah pemain kecil.

Praktik ini disinyalir dijalankan oleh jaringan terorganisir yang bekerja sistematis, rapi, dan berlangsung bertahun-tahun.

Di laut, sejumlah kapal tanker diduga melakukan praktik “kencingan”, istilah yang dikenal luas di kalangan pelaut untuk menyebut pengeluaran solar secara ilegal dari tangki kapal ke kapal kecil atau drum penadah di tengah laut.

Solar tersebut kemudian dibawa ke darat melalui pelabuhan-pelabuhan kecil, muara, hingga dermaga tidak resmi.

Sementara di darat, jaringan ini diperkuat dengan penyelewengan solar subsidi dari SPBU dan SPBN.

Solar yang seharusnya diperuntukkan bagi nelayan, petani, dan masyarakat kecil dibeli menggunakan armada kendaraan yang telah dimodifikasi tangkinya, memanfaatkan barcode ganda, hingga menggunakan identitas palsu.

Dari titik inilah BBM subsidi digiring ke gudang penampungan sebelum dijual kembali dengan harga industri.

Saat investigasi di Belitung pada Kamis-Sabtu (15-17/1/2016) Tim Radakbabel.com menemukan sebuah kendaraan pengangkut solar subsidi yang sempat terpantau mondar-mandir di kawasan Tanjungpandan dengan pola operasi mencurigakan.

Penelusuran berlanjut ke sebuah gudang yang diduga menjadi titik transit utama solar ilegal.

Dalam jaringan ini, muncul nama “Pian”, yang oleh sejumlah sumber lapangan disebut sebagai pemain besar solar jalur laut di kawasan Air Merbau, Kecamatan Tanjungpandan.

Ia diduga mengendalikan distribusi solar dalam jumlah besar, baik yang bersumber dari SPBU/SPBN maupun hasil “kencingan” tanker.

Solar tersebut kemudian disalurkan ke berbagai pihak, terutama penambang timah ilegal yang beroperasi di darat dan perairan Belitung.

Kapal Solar Bebas Bersandar di Dermaga Polairud

Temuan paling mencolok adalah keberadaan kapal pengangkut solar yang disebut-sebut milik Pian, yang kerap bersandar di Dermaga Polairud Belitung.

Dermaga ini seharusnya menjadi kawasan dengan pengawasan ketat aparat penegak hukum karena berada di bawah kendali kepolisian perairan.

Namun ironisnya, kapal tersebut diduga keluar-masuk tanpa hambatan berarti.

Tidak terlihat pemeriksaan intensif, tidak ada penertiban terbuka, dan hingga kini belum ada penindakan hukum yang diketahui publik.

Situasi ini memantik kecurigaan masyarakat.

Banyak pihak menduga adanya pembiaran, bahkan kemungkinan perlindungan oknum aparat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!