Berita

Jejak Gelap Jual Beli Solar di Belitung: Mulai Dari Kapal Tanker, SPBU, dan Dugaan Pembiaran Aparat, Pian Disebut Bos Besar

727
×

Jejak Gelap Jual Beli Solar di Belitung: Mulai Dari Kapal Tanker, SPBU, dan Dugaan Pembiaran Aparat, Pian Disebut Bos Besar

Sebarkan artikel ini

Dugaan ini menguat karena distribusi solar ilegal melalui jalur laut mustahil berjalan mulus tanpa “lampu hijau” di titik-titik strategis.

Solar telah menjadi urat nadi tambang ilegal.

Mesin ponton, alat berat, hingga kapal keruk menggantungkan hidupnya pada pasokan BBM murah.

Dari sinilah solar subsidi yang diselewengkan berubah fungsi, bukan lagi penopang ekonomi rakyat kecil, melainkan bahan bakar perusakan lingkungan.

Hutan rusak, perairan keruh, pesisir tercemar, sementara negara menanggung kerugian ganda—subsidi yang salah sasaran dan kerusakan ekologis yang mahal untuk dipulihkan.

Seorang sumber lapangan menyebut jaringan ini memiliki struktur nyaris sempurna, mulai dari pengumpul solar dari tanker, penadah SPBU/SPBN, pengelola gudang, transporter darat dan laut, hingga “klien tetap” dari kalangan penambang ilegal.

Setiap mata rantai saling mengunci dan sulit ditembus.

Masyarakat mendesak BPH Migas, Pertamina, Polri, serta pengawas internal institusi penegak hukum untuk turun tangan secara serius.

Bukan sekadar razia simbolik, tetapi penyelidikan menyeluruh dari hulu hingga hilir.

“Kalau yang ditangkap hanya sopir dan penjaga gudang, jaringan ini tidak akan mati. Akar masalahnya ada di pemasok besar dan pelindungnya,” ujar seorang tokoh masyarakat Belitung.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Polairud Belitung belum memberikan keterangan resmi.

Saat dikonfirmasi pada Minggu (18/1/2026) pagi Pian tidak memberikan tanggapan langsung kepada tim Radakbabel.com.

Namun tak lama berselang, seorang pria yang mengaku wartawan di Belitung menghubungi salah satu anggota tim investigasi.

“Di mana bang, mau ngajak ngopi,” kata pria tersebut melalui sambungan telepon.

Beberapa waktu kemudian, Cacan, yang mengaku sebagai perwakilan Pian, menghubungi tim Radakbabel.com melalui pesan WhatsApp.

“Saya bagian operasional keuangan, Pak. Bang Pian masih di Papua. Saya yang disuruh maju,” tulis Cacan.

Ia juga membantah seluruh tuduhan terkait solar ilegal.

“Tuduhan itu tidak benar. Kapal tanker tidak ada masuk Belitung, apalagi menjual solar ke SPBU atau SPBN,” ujarnya.

Tim investigasi Radakbabel.com menegaskan akan terus menelusuri alur distribusi solar ilegal ini, termasuk mendalami dugaan keterlibatan oknum aparat.

Kasus solar ilegal di Belitung bukan lagi pelanggaran kecil.

Ia telah menjelma menjadi industri gelap yang menggerogoti keuangan negara, merampas hak rakyat kecil, dan mempercepat kehancuran lingkungan—semua berlangsung di tengah pengawasan yang seharusnya ketat, namun tampak lumpuh. (B5)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *