Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim
TEMPILANG, Berita5.co.id — Kesepakatan yang dibangun dengan susah payah oleh nelayan Desa Benteng Kota kini kembali diuji. Di tengah upaya membatasi aktivitas ilegal tambang laut, dugaan pelanggaran mencuat ke permukaan. Sebuah speedboat disebut-sebut melakukan aktivitas di kawasan Pantai Pasir Kuning, wilayah yang secara tegas telah dinyatakan steril dari tambang.
Bagi nelayan, ini bukan sekadar pelanggaran teknis. Ini sebagai sinyal bahwa kesepakatan yang mereka bangun sedang dipermainkan.
“Kalau benar ada speedboat masuk ke Pasir Kuning, itu bukan lagi pelanggaran kecil. Itu bentuk terang-terangan bahwa kesepakatan ini dianggap tidak ada,” ujar Ali (56), nama samaran, nelayan setempat, menuturkan dengan nada berat saat ditemui, Minggu (03/05/2026).
Pantai Pasir Kuning sebelumnya telah disepakati sebagai zona wisata bebas aktivitas tambang. Wilayah ini menjadi simbol harapan terakhir bagi nelayan untuk tetap memiliki ruang tangkap yang layak di tengah ekspansi ponton yang kian tak terkendali.
Namun laporan dari lapangan menyebutkan, aktivitas speedboat justru terlihat beroperasi di area tersebut mengangkut, memantau atau bahkan menjadi bagian dari rantai distribusi tambang.
Ali menyebut, jika dugaan ini benar, maka yang dilanggar bukan hanya batas wilayah, tetapi juga kepercayaan.
“Kami ini bukan melarang tanpa alasan. Kami sudah sepakat bersama. Tapi kalau masih ada yang masuk ke zona larangan, itu artinya ada yang sengaja menginjak kesepakatan,” katanya menjelaskan.
Lebih jauh, ia mempertanyakan peran panitia tambang laut yang seharusnya menjadi pengawas sekaligus penjaga komitmen bersama.
“Panitia itu dibentuk untuk mengatur, bukan untuk membiarkan. Kalau pelanggaran seperti ini terjadi dan tidak ada tindakan, lalu fungsi panitia itu apa?” ujarnya tegas.
Dalam pandangan nelayan, keberadaan speedboat di zona steril membuka dugaan yang lebih dalam bahwa pelanggaran tidak lagi bersifat sporadis, melainkan terstruktur.
“Speedboat itu bukan perahu kecil yang lewat begitu saja. Itu bagian dari sistem. Kalau dia bisa masuk ke Pasir Kuning, berarti ada yang membuka jalan,” kata Ali.
Nada kritiknya semakin tajam ketika berbicara soal konsistensi penegakan aturan.
“Kami diminta patuh. Kami diminta jaga laut. Tapi ketika ada yang jelas-jelas melanggar, kenapa dibiarkan? Jangan sampai aturan ini hanya keras ke yang kecil, tapi lunak ke yang punya kepentingan,” tuturnya.












