Baginya, Paskibraka sebagai wadah strategis untuk memastikan bahwa generasi muda tidak kehilangan arah di tengah derasnya arus globalisasi.
“Pancasila itu bukan untuk dihafal, tetapi untuk dihidupi. Kalian adalah generasi yang harus membuktikan itu,” tegasnya.
Pernyataan ini memperkuat citra dirinya sebagai pemimpin yang tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan karakter generasi muda.
Di balik narasi besar tersebut, suasana ruangan menyimpan cerita-cerita kecil yang begitu manusiawi.
Seorang peserta terlihat menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya.
Di sisi lain, seorang siswi meremas ujung bajunya, menahan gugup yang tak bisa disembunyikan.
Ada pula yang menatap bendera merah putih dengan pandangan yang tak biasa seolah sedang berbicara dengan masa lalu yang tak pernah ia alami, namun ia warisi.
Di luar gedung, bayangan orang tua yang menunggu dengan harap dan cemas menjadi bagian tak terpisahkan dari kisah ini. Di dalam, anak-anak mereka sedang berproses menjadi simbol negara.
Kepada panitia dan tim seleksi, H.Yus Derahman menyampaikan pesan yang tegas dan sarat makna objektivitas sebagai harga mati.
“Pilihlah yang benar-benar layak. Yang tidak hanya kuat, tetapi juga memiliki jiwa untuk menjaga kehormatan bangsa,” ujarnya.
Pesan ini menjadi penegasan bahwa seleksi ini tidak boleh sekadar formalitas, tetapi harus menghasilkan generasi terbaik yang mampu membawa nama Bangka Barat dengan bangga.
Melalui momentum ini, H.Yus Derahman memperlihatkan gaya kepemimpinan yang tidak hanya administratif, tetapi inspiratif.
Ia tidak hanya membuka acara, tetapi membangun kesadaran kolektif. Ia tidak hanya memberi arahan, tetapi menyalakan semangat.
Dalam konteks ini, seleksi 120 calon Paskibraka menjadi panggung yang memperkuat citra dirinya sebagai pemimpin yang peduli terhadap pembentukan generasi berkarakter, berjiwa nasionalis dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Ketika acara ditutup, suasana tidak riuh oleh tepuk tangan panjang, tetapi hening oleh kesadaran yang tumbuh perlahan.
Dari 120 peserta yang berdiri hari itu, hanya sebagian yang akan terpilih. Namun sejatinya, seluruhnya telah melewati satu fase penting menjadi bagian dari narasi kebangkitan pemuda.
Di Gedung Graha Aparatur pagi itu, tidak hanya berlangsung seleksi.
Yang terjadi proses penanaman nilai, pembentukan jiwa dan penguatan identitas kebangsaan.
Di tengah semua itu, sosok H.Yus Derahman hadir sebagai pengingat bahwa harapan bangsa tidak pernah padam selama masih ada pemuda yang mau berdiri tegak di bawah merah putih.
Dalam diam, seolah seluruh peserta mengucapkan satu janji yang tak tertulis kami siap melanjutkan perjuangan. (b5)












