Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim
BANGKA BARAT, Berita5.co.id — Pagi masih muda ketika rombongan peziarah mulai memenuhi jalan-jalan sempit Kampung Tanjung. Sebagian membawa kitab Yasin, sebagian lagi menggenggam tasbih. Di bawah langit yang bersih selepas Idul Adha, mereka bergerak perlahan menuju Kompleks Keramat Kute Seribu, sebuah kawasan pemakaman tua yang selama berabad-abad menjadi saksi perjalanan sejarah Kota Mentok.
Dari kejauhan terdengar lantunan doa.
Suara itu datang silih berganti.
Yasin.
Tahlil.
Zikir.
Doa-doa yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Bagi sebagian orang, kegiatan itu mungkin hanya tradisi keagamaan tahunan. Namun bagi masyarakat Mentok, Kute Seribu menyimpan makna yang lebih dalam daripada sekadar tempat peristirahatan terakhir para ulama dan tokoh masa lampau.
Di tempat itulah sejarah masih bernapas.
Sabtu, 30 Mei 2026, bertepatan dengan hari keempat Idul Adha 1447 Hijriah, ribuan warga kembali berkumpul dalam tradisi Ziarah Kute Seribu. Hadir di tengah-tengah mereka Wakil Bupati Bangka Barat, H. Yus Derahman.
Dalam pidatonya, Yus tidak banyak berbicara tentang pembangunan fisik, angka investasi, ataupun proyek-proyek pemerintah yang lazim menjadi bahan pidato pejabat daerah.
Ia justru mengajak masyarakat menoleh ke belakang.
Ke arah makam-makam tua yang berdiri diam di hadapan mereka.
“Ziarah ini bertujuan untuk mendoakan Habib Hamid bin Abdurrahman Assegaf, Habib Hud bin Muhammad Assegaf, Habib Syatho, para tokoh agama Islam serta para pendiri Kota Mentok dan pemimpin Pulau Bangka di masa silam yang dimakamkan di kawasan ini,” kata Yus.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun sesungguhnya ia sedang berbicara tentang sesuatu yang semakin langka di tengah pembangunan modern: memori kolektif.
Kute Seribu bukanlah kawasan pemakaman biasa.
Di sana dimakamkan sejumlah habaib, ulama, pemimpin lokal dan tokoh-tokoh yang pernah memainkan peran penting dalam pembentukan identitas sosial dan keagamaan masyarakat Mentok. Nama-nama mereka mungkin tidak tercatat dalam buku sejarah nasional. Namun jejak pengaruhnya masih terasa hingga hari ini.
Karena itu, setiap tahun masyarakat datang kembali.
Mereka datang bukan hanya untuk mendoakan.
Mereka datang untuk mengingat.
Mengingat, dalam banyak peradaban Sebagai bentuk penghormatan tertinggi terhadap sejarah.
Di tengah derasnya arus digitalisasi, ketika generasi muda lebih mudah mengenali tokoh-tokoh global dibandingkan para pendiri daerahnya sendiri, keberadaan Kute Seribu menghadirkan pertanyaan yang jarang diajukan tentang seberapa jauh masyarakat masih mengenal akar sejarahnya?
Pertanyaan itulah yang tampaknya ingin dijawab Yus Derahman melalui pidatonya.
Menurut dia, ziarah kubur dalam ajaran Islam bukan hanya sarana mendoakan mereka yang telah wafat. Ziarah juga menjadi ruang refleksi untuk mengenang amal ibadah, kepemimpinan dan perjuangan para pendahulu.
Di titik inilah Kute Seribu berubah fungsi.
Ia tidak lagi sekadar kompleks makam.
Ia menjelma menjadi ruang pendidikan.












