Oleh: Bangdoi Ahada
PANGKALPINANG, Berita5.co.id – Persaingan global memperebutkan Logam Tanah Jarang (LTJ) atau Rare Earth Elements (REE) memasuki babak baru.
Bukan semata karena cadangan dunia habis, melainkan karena permintaan industri teknologi, kendaraan listrik, pertahanan, semikonduktor, hingga kecerdasan buatan (AI) meningkat jauh lebih cepat dibanding kemampuan pasokan baru untuk diproses.
Kondisi tersebut membuat negara-negara industri berlomba mencari sumber bahan baku alternatif.
China, yang masih mendominasi sekitar 60 persen produksi tambang rare earth dan lebih dari 90 persen kapasitas pemurnian global, juga terus berupaya mengamankan pasokan bahan baku agar industri hilirnya tetap berjalan.
Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian industri tidak lagi hanya tertuju pada tambang primer.
Berbagai limbah industri, termasuk residu pengolahan mineral, mulai dilirik karena dinilai masih mengandung unsur-unsur logam tanah jarang yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
Laporan International Energy Agency (IEA) menyebutkan bahwa kebutuhan rare earth untuk magnet permanen diperkirakan terus meningkat seiring pesatnya pertumbuhan kendaraan listrik, robotika, pusat data AI, dan industri pertahanan.
Namun pembangunan fasilitas pemurnian dan manufaktur magnet di luar China masih tertinggal, sehingga rantai pasok global tetap sangat rentan.












