Bangka BaratDesa WisataHukumLingkunganLokalNewsPariwisata

Di Tempilang, Nelayan Menjaga Tradisi dan Mangrove, Sementara Reklamasi Tambang Laut Masih Menjadi Harapan

×

Di Tempilang, Nelayan Menjaga Tradisi dan Mangrove, Sementara Reklamasi Tambang Laut Masih Menjadi Harapan

Sebarkan artikel ini

Oleh: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim

BANGKA BARAT, Berita5.co.id — Fajar belum benar-benar mengusir gelap ketika Ali (56) mulai melangkah ke hamparan lumpur Pantai Karang Apit, Kecamatan Tempilang, Kabupaten Bangka Barat. Di pundaknya tergantung sebatang kayu sepanjang hampir tiga meter dengan jaring berbentuk segitiga di ujungnya. Alat sederhana itu dikenal masyarakat pesisir sebagai sungkur, alat tangkap tradisional yang telah diwariskan turun-temurun untuk menangkap udang rebon.

Air laut masih surut. Ombak hanya terdengar lirih memecah bibir pantai. Langkah Ali perlahan membelah lumpur yang telah menjadi ruang hidupnya selama hampir empat puluh tahun.

“Laut bukan untuk ditaklukkan. Ia harus dipahami,” katanya sambil memandang ke arah laut yang mulai memantulkan cahaya matahari, Senin (27/7/2026).

Kalimat itu bukan sekadar petuah seorang nelayan tua. Di Tempilang, laut diperlakukan layaknya anggota keluarga. Ia memberi makan, mengajarkan kesabaran, sekaligus menjadi ruang tempat pengetahuan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Namun, pagi itu laut seolah enggan bercerita.

Ali mengangkat sungkurnya.

Kosong.

Ia berpindah beberapa meter.

Masih kosong.

“Dulu sebelum matahari tinggi, keranjang sudah penuh. Sekarang kadang sampai siang belum tentu dapat,” ujarnya.

Bagi Ali, perubahan itu terasa perlahan tetapi pasti. Musim rebon semakin sulit diprediksi. Angin berubah arah. Pasang surut tak lagi mengikuti pola yang selama puluhan tahun dikenalnya.

Ia mungkin tidak mengenal istilah perubahan iklim, degradasi ekosistem, ataupun gangguan habitat pesisir. Namun tubuhnya membaca perubahan itu setiap hari melalui lumpur yang diinjak dan laut yang selama puluhan tahun menjadi ruang belajarnya.

Di waktu yang hampir bersamaan, sekitar 70 kilometer dari Tempilang, Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memperingati Hari Mangrove Sedunia 2026 dengan menanam 3.300 bibit mangrove di Pantai Menuang, Kabupaten Bangka Tengah.

Kegiatan itu dipimpin langsung Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Hidayat Arsani.

Dalam sambutannya, Hidayat mengatakan penanaman mangrove bukan sekadar seremoni tahunan.

Mangrove, menurutnya, merupakan benteng alami pesisir yang mampu menahan abrasi, menyerap karbon, sekaligus menjadi tempat berkembang biaknya berbagai biota laut.

Pesan itu terdengar sederhana.

Namun bagi masyarakat pesisir Tempilang, kalimat tersebut menghadirkan pertanyaan yang jauh lebih besar.

Jika ribuan mangrove ditanam untuk memulihkan pesisir Bangka Belitung, bagaimana dengan kawasan laut yang telah lama dimanfaatkan sebagai wilayah pertambangan?

Pertanyaan itu mengarah kepada Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP) Laut DU-1545 PT Timah Tbk yang berada di perairan Tempilang.

Di warung kopi nelayan, di pondok-pondok sederhana yang menghadap laut, hingga di sela aktivitas mengolah rebon menjadi terasi, pembicaraan tentang laut tidak lagi hanya soal hasil tangkapan.

Yang muncul justru sebuah pertanyaan.

Kapan kawasan laut yang telah dimanfaatkan benar-benar dipulihkan?

Masyarakat tidak selalu memperdebatkan keberadaan aktivitas pertambangan.

Sebagian memahami bahwa sumber daya mineral merupakan aset negara yang dapat dimanfaatkan untuk pembangunan.

Namun di sisi lain, mereka berharap pemanfaatan tersebut berjalan beriringan dengan pemulihan lingkungan.

Harapan itu lahir dari kesadaran sederhana bahwa laut yang rusak akan lebih sulit diwariskan dibandingkan laut yang dijaga.

Nyungkur, Pengetahuan Lokal yang Bergantung Pada Laut

Tempilang memiliki satu tradisi yang tidak dimiliki banyak daerah di Indonesia.

Tradisi itu bernama Nyungkur.

Masyarakat menangkap udang rebon menggunakan sungkur, alat tangkap tradisional yang didorong perlahan mengikuti arus laut.

Cara menangkap itu nyaris tidak menghasilkan kebisingan.

Tidak menggunakan mesin.

Tidak mengaduk dasar laut secara berlebihan.

Mata jaringnya dibuat sedemikian rupa agar hanya menangkap rebon dan mengurangi tangkapan biota lain.

Bagi masyarakat Tempilang, Nyungkur bukan sekadar aktivitas ekonomi.

Ia sebagai pengetahuan ekologis yang diwariskan lintas generasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!