Berita

Warga Pesisir Kampung Sawah Mentok dan Tambang PIP di Tengah Lesunya Ekonomi Laut

92
×

Warga Pesisir Kampung Sawah Mentok dan Tambang PIP di Tengah Lesunya Ekonomi Laut

Sebarkan artikel ini

Penulis: Belva dan Satrio

MENTOK, Berita5.co.id — Di tengah cuaca laut yang kian tak menentu dan hasil tangkapan nelayan pesisir yang terus menurun, aktivitas tambang timah di wilayah kerja Kampung Sawah menghadirkan narasi alternatif tentang bertahannya ekonomi lokal.

Sabtu (24/1/2026), pengelola Tambang Timah dengan metode Ponton Isap Produksi (PIP) menyalurkan dana kompensasi kepada masyarakat sebagai bentuk realisasi kesepakatan bersama antara penambang dan warga setempat.

Dana kompensasi sebesar Rp 2.700.000 itu diserahkan secara langsung kepada pengurus Surau Kampung Sawah, Bapak Romli, serta perangkat RT/RW 04 Kampung Sawah.

Dana tersebut direncanakan dialokasikan untuk nelayan pesisir, masyarakat umum, panitia lingkungan, masjid atau surau, hingga kebutuhan operasional sosial kemasyarakatan.

Penyerahan dana dilakukan secara terbuka dan diterima oleh perwakilan warga, sebuah praktik yang dalam banyak konflik pertambangan sering kali menjadi penanda adanya relasi kesepakatan lokal antara pengelola tambang dan masyarakat di sekitar wilayah kerja.

Ketua RT 01 Kampung Sawah, Mak Li, menyebut aktivitas tambang PIP saat ini dirasakan membantu masyarakat, khususnya nelayan kecil yang terdampak langsung oleh cuaca laut ekstrem dan menurunnya hasil tangkapan.

“Di saat hasil laut menurun dan penghasilan nelayan berkurang, aktivitas tambang PIP ini sangat membantu masyarakat. Walaupun jumlahnya tidak besar, yang penting berkah dan bisa menopang kebutuhan nelayan serta kas masjid atau surau,” ujar Mak Li.

Bagi sebagian warga Kampung Sawah, kompensasi tersebut tidak sekadar dimaknai sebagai bantuan ekonomi, tetapi juga sebagai bentuk kehadiran aktivitas produktif di tengah minimnya alternatif penghidupan.

Dalam situasi ketika laut tak lagi sepenuhnya bisa diandalkan, tambang menjadi salah satu ruang harapan yang tersedia meski bukan tanpa konsekuensi jangka panjang.

Surau, yang selama ini berfungsi sebagai pusat ibadah sekaligus ruang sosial warga, turut merasakan dampak langsung dari aktivitas tambang yang beroperasi di wilayah pesisir tersebut.

Aliran dana ke ruang-ruang komunal ini secara perlahan membentuk penerimaan sosial terhadap keberadaan tambang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *