TEMPILANG, Berita5.co.id — Wakil Bupati Bangka Barat H. Yusderahman resmi menutup Open Turnamen Sepakbola Pemuda Cup 2025 Desa Penyampak di Lapangan Ghorib, Minggu (23/11/2025), sebuah gelaran yang bukan hanya menghadirkan juara baru, tetapi juga meniupkan kembali ruh kebangkitan olahraga rakyat di Tempilang.
Pada laga final yang disaksikan ribuan penonton, Persit Airlintang Tempilang berhasil menumbangkan tim favorit Panser FC Desa Pangkal Niur melalui drama adu penalti 4–3, setelah bermain imbang 1–1 di waktu normal.
Dari lapangan berlumpur yang tergenang sisa hujan, para pemain muda bangkit sebagai kampiun, mengangkat tropi dan medali, menerima sorakan hangat warga yang memadati setiap sudut lapangan.
Persit berhak atas bonus pembinaan sebesar Rp 17 juta, disusul Panser FC (Rp 12 juta), Himawari Desa Labu (Rp 8 juta), dan BKTN Desa Neknang (Rp 5 juta). Gelar top scorer diberikan kepada Ashar, Yogi (Panser FC), dan Mario (Himawari FC) dengan dua gol.
Di bawah langit yang mulai redup, ribuan warga berdiri memadati lereng kecil di pinggir lapangan.
Dari anak-anak yang duduk bersandar di rumput basah hingga para orang tua yang mengangkat ponsel untuk mengabadikan momen bersejarah, suasana itu terlihat jelas dalam foto yang memperlihatkan gelombang masyarakat berjubel, seakan lapangan kecil itu berubah menjadi stadion rakyat yang bernyawa.
Ketika dua tim berfoto sebelum laga, wajah-wajah muda penuh harapan terpancar pada jersey biru Persit dan merah Panser.
Mereka berdiri tegak, mengetahui bahwa pertandingan ini bukan sekadar perebutan piala tetapi tentang kebanggaan kampung, tentang membuktikan diri di hadapan ribuan mata yang percaya pada mereka.
Ketika peluit akhir berbunyi, foto lain memperlihatkan para pemain Persit berlutut di tanah berlumpur sambil mengangkat tropi.
Ada lumpur menempel di kaos mereka, ada lecet di kaki mereka, tetapi ada pula cahaya kemenangan di mata mereka.
Itulah gambar paling otentik dari kebangkitan olahraga desa: sederhana, jujur, dan penuh daya hidup.
Di momen penutupan, Wakil Bupati H. Yusderahman berdiri di tengah riuh tepuk tangan warga.
Dengan suara tenang, ia menyampaikan apresiasi kepada kedua tim finalis, tim wasit Askab, serta pengawas pertandingan dari Asprop.
Namun ada yang lebih dalam dari sekadar sambutan formal, Yusderahman berbicara sebagai seorang yang pernah menghirup napas kemenangan dan kekalahan di lapangan yang sama pada era 1980-an.
Sebagai mantan pemain Persit Air lintang Tempilang, ia memahami benar bahwa sepak bola kampung adalah nadi yang tak boleh padam.












