Berita

Toboali–Jebus dalam Satu Peta: Setelah Asui, Kini Giliran Aktor 90 Ton Pasir Timah Dibidik Mabes Polri

997
×

Toboali–Jebus dalam Satu Peta: Setelah Asui, Kini Giliran Aktor 90 Ton Pasir Timah Dibidik Mabes Polri

Sebarkan artikel ini

Editor: Bangdoi Ahada

BANGKABARAT, Berita5.co.id — Beberapa hari setelah penggerebekan rumah Bos Timah Keposang, Asui, di Toboali, langkah aparat penegak hukum ternyata belum berhenti.

Tim Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Tipidter) Bareskrim Polri yang dipimpin Brigjen Irhamni dilaporkan bergerak ke Kabupaten Bangka Barat.

Informasi yang dihimpun Tim Radak Babel menyebutkan, pergerakan tim ini berkaitan dengan pengusutan kasus dugaan penyelundupan 90 ton pasir timah di Dusun Kampak, Desa Jebus, Kecamatan Jebus, Kabupaten Bangka Barat beberapa waktu lalu.

Langkah cepat ini memunculkan spekulasi adanya benang merah antara penggerebekan rumah Asui di Toboali dan praktik penyelundupan timah dalam skala besar di wilayah barat Pulau Bangka.

Dari Toboali ke Jebus

Penggerebekan di rumah Asui di Toboali beberapa waktu lalu menyita perhatian publik. Sejumlah aset dan brankas dipasangi garis polisi.

Namun, hingga kini publik masih menanti kejelasan konstruksi hukum dan siapa saja yang akan ditetapkan sebagai tersangka.

Kini, sorotan bergeser ke Bangka Barat. Di Dusun Kampak, aparat disebut tengah mendalami peran sejumlah nama dalam kasus 90 ton pasir timah yang diduga hendak diselundupkan.

Kasus ini menyeruak setelah aktivitas bongkar muat timah secara diam-diam di dermaga RT 003 Dusun Kampak terungkap.

Sejumlah warga mengaku dilibatkan sebagai kuli pikul dengan upah Rp 500 per kilogram. Total dana yang beredar di tingkat masyarakat disebut mencapai Rp 50 juta.

Pola Lama, Aktor Baru?

Nama Tomo mencuat sebagai sosok yang diduga berperan sebagai pengendali lapangan.

Ia disebut-sebut sebagai tangan kanan dari sosok berinisial Ang, yang diduga sebagai pemodal atau “big boss” dalam operasi tersebut.

Skema ini mengingatkan pada pola sebelumnya di Pantai Mentigi, Desa Teluk Limau, Kecamatan Parittiga, yang pernah menyeret nama Henky alias Cebol sebagai koordinator lapangan.

Polanya serupa, masyarakat dilibatkan sebagai tenaga angkut, sementara aktor utama tak pernah tampak di lokasi.

Pepatah “lempar batu sembunyi tangan” terasa relevan. Pengendali diduga berada di balik layar, sementara masyarakat bawah menjadi tameng sekaligus korban sistem.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!