Bangka BaratBangka BelitungEdukasiPemerintahan

Teni Wahyuni: Menanam Kesadaran, Menyalakan Makna di Balik Pembelajaran Digital

34
×

Teni Wahyuni: Menanam Kesadaran, Menyalakan Makna di Balik Pembelajaran Digital

Sebarkan artikel ini

Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim

BANGKA BARAT, Berita5.co.id— Di tengah arus zaman yang bergerak tanpa menunggu siapa pun, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Bangka Barat, Teni Wahyuni, S.E., memilih satu sikap yang tidak semua pemimpin berani ambil untuk berdiri di depan perubahan, bukan untuk mengendalikan, tetapi untuk memaknai.

Baginya, pendidikan bukan sekadar sistem yang harus berjalan, melainkan ruang hidup yang harus terus dihidupkan.

Melalui webinar “Pembelajaran Digital” yang digelar Selasa (5/5/2026), Teni tidak sekadar membuka acara. Ia membuka kesadaran. Ia menghadirkan satu refleksi kolektif bahwa dunia pendidikan hari ini sedang berada di persimpangan antara bertahan dengan cara lama atau berani melangkah menuju kemungkinan baru.

“Transformasi pendidikan saat ini sedang berlangsung sangat cepat. Teknologi telah mengubah cara kita belajar, cara kita mengajar, bahkan cara peserta didik kita memahami dunia,” ujarnya, lirih namun tegas, seolah menyadarkan bahwa waktu tidak pernah benar-benar memberi pilihan selain berubah.

Namun di tengah gegap gempita digitalisasi, Teni justru menarik garis yang lebih dalam. Ia menolak terjebak pada euforia teknologi yang sering kali melupakan esensi.

Baginya, pembelajaran digital bukan tentang layar, bukan tentang aplikasi, dan bukan tentang koneksi internet semata. Ia tentang bagaimana manusia tetap menjadi pusat dari seluruh proses itu.

“Yang terpenting bukan hanya pada teknologinya, melainkan bagaimana kita sebagai guru mampu menggunakannya untuk menciptakan pembelajaran yang bermakna, membangun karakter dan mendorong kreativitas peserta didik,” katanya.

Di situlah letak arah kebijakan yang secara halus namun kuat ia bangun. Seorang pemimpin yang tidak silau oleh alat, tetapi teguh pada nilai.

Ia tidak berbicara tentang kecanggihan, tetapi tentang keberanian. Tidak tentang kecepatan, tetapi tentang kedalaman.

Webinar yang menghadirkan praktisi pendidikan seperti Suwito dari SMP Santa Maria Mentok dan Syarif Firdaus dari SD Negeri 22 Kelapa itu memang menjadi bagian dari rangkaian Hari Pendidikan Nasional 2026. Namun di tangan Teni, momentum itu berubah menjadi ruang kontemplasi bersama.

Ia memandang kegiatan ini bukan sebagai agenda formal, tetapi sebagai titik mula dari perubahan cara pandang.

“Saya mengajak Bapak/Ibu semua untuk tidak ragu belajar hal baru. Jangan takut mencoba. Karena guru yang hebat bukanlah yang paling tahu, tetapi yang terus mau belajar,” ucapnya.

Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung filosofi yang dalam bahwa kehebatan seorang guru tidak diukur dari apa yang ia kuasai hari ini, melainkan dari kesediaannya untuk terus bertumbuh esok hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *