Penulis: Belva Al Akhab dan Satrio
BANGKA BARAT, Berita5.co.id — Panggung itu berdiri rapi. Spanduk terbentang. Mikrofon menyala. Kata-kata tentang kesejahteraan, keadilan dan penghormatan kepada buruh mengalir tertata dalam susunan acara.
Namun di luar panggung, ada yang absen.
Bukan sekadar orang.
Melainkan suara.
Di tengah peringatan Hari Buruh Internasional 2026 yang digelar Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, kritik datang dari arah yang tak diundang. DPC KSPSI Bangka Barat membuka suara, bukan dengan teriakan, tetapi dengan luka yang terucap perlahan.
Ketua DPC KSPSI Bangka Barat, Jumadin Abu Nawar, memulai dengan sesuatu yang nyaris terdengar seperti penghormatan.
“Kami bangga May Day diperingati,” kata Jumadin Abu Nawar, Rabu (6/5/2026).
Namun kalimat berikutnya mengubah segalanya.
“Tapi kami juga kecewa.” tambahnya.
Ia berhenti sejenak, bukan karena ragu tetapi karena tahu bahwa yang akan ia katakan bukan sekadar kritik, melainkan penyingkapan.
“Buruh yang memiliki basis anggota nyata justru tidak dilibatkan. Bahkan tidak diundang. Ini bukan sekadar kekeliruan. Ini pertanyaan besar.” ungkapnya dengan nada getir.
Di titik itu, May Day tidak lagi terasa seperti perayaan.
Ia berubah menjadi ironi.
Bagi KSPSI, May Day bukan tanggal di kalender. Ia sebagai ingatan kolektif yang lahir dari luka panjang sejarah. Dari tubuh-tubuh yang dipaksa bekerja 12 hingga 16 jam sehari. Dari keringat yang tidak dihargai. Dari hidup yang dirampas waktunya.
Pada tahun 1886, di Chicago, ratusan ribu buruh turun ke jalan. Mereka tidak membawa dekorasi. Mereka membawa tuntutan.
Delapan jam kerja.
Delapan jam istirahat.
Delapan jam untuk hidup sebagai manusia.
Namun dari sana, dunia berubah.
Jam kerja delapan jam yang hari ini dianggap normal, lahir dari perlawanan, bukan dari seremoni.
Dari keberanian, bukan dari undangan.
“Sejarah itu mahal dan hari ini, kita merayakannya tanpa menghadirkan mereka yang mewarisinya.” kata Jumadin.
Di ruang acara, kata buruh diucapkan berkali-kali.
Namun di luar ruang itu, buruh tetap bekerja.
Di kebun sawit.
Di lini produksi.
Di balik mesin yang tak pernah tahu apa itu seremoni.
Mereka tidak mengenakan atribut.
Tidak berdiri di panggung.
Tidak masuk dalam daftar undangan.












