Penulis: Belva
MENTOK, Berita5.co.id – Senin (10/11/2025), Tembelok harus diangkat sebagai destinasi yang tidak hanya kita sebut, tetapi kita beri nyawa, kita beri bahasa, kita beri nilai sebagai pusat ideologi ekonomi biru Bangka Barat.
Karena pantai ini bukan sekadar lanskap pasir, bukan sekadar garis tepi laut, bukan sekadar objek geografis yang diam.
Tembelok adalah simbol kemungkinan. Tembelok adalah ruang yang kalau ditulis dengan keras, dengan bahasa yang benar, dengan mental yang maju, bisa menjadi kejutan sejarah bagi arah pengembangan ekonomi laut Sumatera bagian selatan.
Tembelok adalah panggung alami yang Tuhan ciptakan sebagai teluk semi-mangkuk, bentuk yang tidak dimiliki pantai garis lurus, bentuk yang tenang dari gelombang besar, bentuk yang mampu memeluk ribuan perahu seperti lengan ibu memeluk anak-anak lautnya yang pulang.
Dalam logika pariwisata masa depan pariwisata bukan lagi sekadar upaya mempromosikan lokasi.
Pariwisata adalah upaya memproduksi pengalaman. Pengalaman yang paling dahsyat adalah pengalaman yang lahir dari laut.
Karena laut memberikan sensasi keseimbangan antara rasa takut dan rasa takjub. Laut adalah panggung adrenalin alamiah.
Dan Tembelok adalah panggung paling siap untuk itu.
Tembelok ini bisa kita jadikan panggung ribuan perahu dalam narasi besar festival laut.
Tembelok adalah ruang tempat imajinasi kita tentang pariwisata maritim bisa diberi tubuh.
Apa yang kita butuhkan? Kita membutuhkan keberanian untuk memilih narasi yang radikal bahwa Tembelok bukan pantai biasa.
Tembelok adalah destinasi 1.000 perahu. Angka ini bukan gimmick. Angka ini adalah alat propaganda untuk mengguncang mental masyarakat agar tidak lagi melihat laut sebagai sumber barang mentah, tetapi melihat laut sebagai sumber nilai estetika yang dapat dijual tanpa merusak.
Tembelok adalah cara untuk menggeser narasi masyarakat dari ekstraksi ke ekspresi. Dari komoditas ke pengalaman. Dari eksploitasi ke ideologi nilai.
Kita sedang masuk ke zaman ekonomi biru. Dunia sedang bergerak ke arah industri laut yang berkelanjutan.
Dunia sedang meninggalkan pola pikir komoditas dan menuju pola pikir estetika. Tembelok memiliki syarat geospasial yang sempurna untuk itu: 1) bentuk teluk, 2) gelombang rendah, 3) latar kota kolonial tua Mentok yang memiliki nilai heritage siap jual.
Di banyak tempat lain, orang harus membangun infrastruktur baru untuk menciptakan konteks destinasi.
Tapi Tembelok sudah punya konteks itu sejak dahulu. Tembelok sudah punya kota tua.
Tembelok sudah punya memori kolonial. Tembelok sudah punya cerita maritim. Yang kurang hanya bahasa politik baru yang harus kita ucapkan.
Narasinya sederhana. Tapi revolusioner:
Tembelok bukan benda. Tembelok adalah ide.
Ide bahwa sebuah pantai dapat menjadi mata uang baru daerah. Ide bahwa sebuah pantai dapat menjadi ruang produksi pengalaman.
Ide bahwa satu pantai dapat menjadi pusat pergerakan ekonomi baru tanpa menggerogoti bumi.
Ide bahwa masa depan Bangka Barat tidak perlu lagi diikat ke tanah. Karena tanah bisa habis. Tapi pengalaman laut tidak akan habis.
Saya pernah berdiri di Tembelok jam empat pagi. Gelap, angin timur menusuk, tapi suara air itu seperti suara jiwa.
Laut itu diam tapi tidak mati. Laut itu tenang tapi tidak pasif. Ada gerak yang selalu berdenyut, seolah Tuhan sedang menuliskan sesuatu di permukaan air:
“lihatlah, ini bukan garis geografi, ini panggung masa depanmu.”
Saya bertemu seorang anak muda di sana. Namanya Ilham.
24 tahun. Ia tidak datang sebagai model brosur, ia datang sebagai manusia masa depan yang wajahnya sudah digital.












