Editor: Bangdoi
JAKARTA, Berita5.co.id – Rentetan kecelakaan kapal yang terus berulang di Indonesia dinilai bukan lagi sekadar persoalan teknis, melainkan telah menjadi ancaman serius terhadap konektivitas nasional dan keselamatan masyarakat.
Anggota Dewan Penasehat Bidang Infrastruktur Maritim Marin Nusantara, Akbar Ikramsyah, menegaskan bahwa penerapan Safety of Life at Sea (SOLAS) 1974 harus menjadi perhatian nasional karena menyangkut perlindungan nyawa manusia sekaligus masa depan sektor kemaritiman Indonesia.
“Keselamatan pelayaran harus menjadi isu nasional, karena dampaknya sangat luar biasa bagi Indonesia yang merupakan negara kepulauan,” tegas Akbar Ikramsyah dalam Sarasehan Nasional bertajuk Selamatkan Pelayaran Indonesia yang diselenggarakan Marin Nusantara di Jakarta Barat, Rabu (5/8/2026).
Menurut Akbar, setiap kecelakaan kapal tidak hanya memakan korban jiwa, tetapi juga mengganggu distribusi logistik, mobilitas masyarakat, aktivitas ekonomi, hingga menurunkan kepercayaan publik terhadap transportasi laut.
Karena itu, implementasi SOLAS tidak boleh berhenti sebagai kewajiban administratif, melainkan harus menjadi budaya keselamatan yang dijalankan secara konsisten oleh seluruh pemangku kepentingan.
Pernyataan Akbar mengemuka di tengah sorotan publik terhadap tragedi terbakarnya KMP Mutiara Sentosa 2 di Perairan Madura yang menewaskan sedikitnya empat orang, sementara sejumlah penumpang lainnya masih dinyatakan hilang.
Tragedi tersebut kembali membuka pertanyaan besar mengenai sejauh mana standar internasional SOLAS benar-benar diterapkan di lapangan.
Padahal, Indonesia telah mengadopsi ketentuan SOLAS melalui Undang-Undang Pelayaran beserta berbagai regulasi turunannya.
Namun, kecelakaan kapal yang terus berulang menunjukkan bahwa persoalan utama bukan lagi kekurangan aturan, melainkan lemahnya implementasi dan pengawasan.
Pengurus Indonesia National Shipowner Association (INSA), Capt. Zaenal A. Hasibuan, mengingatkan bahwa filosofi SOLAS bertumpu pada perlindungan jiwa manusia.
Akademisi sekaligus praktisi maritim Yahya Kuncoro menegaskan bahwa kata “Life” dalam SOLAS merupakan inti dari seluruh sistem keselamatan pelayaran.
“Kalau satu penumpang saja meninggal, itu sudah menjadi persoalan besar. SOLAS tidak bisa ditawar karena menjadi acuan keberhasilan penyelenggaraan angkutan laut,” ujarnya.
Data Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) memperlihatkan persoalan tersebut bersifat sistemik.












