Bangka BaratBeritaLaw&CrimeLingkunganLokalNewsPemerintahan

Sebulan Menanti Atap yang Tak Kunjung Kembali, Penumpang Kapal Cepat Bahari Berteduh di Bawah Terik dan Hujan

×

Sebulan Menanti Atap yang Tak Kunjung Kembali, Penumpang Kapal Cepat Bahari Berteduh di Bawah Terik dan Hujan

Sebarkan artikel ini

Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim

BANGKA BARAT, Berita5.co.id – Matahari siang itu menyengat Pelabuhan Tanjung Kalian, Mentok. Beberapa penumpang Kapal Cepat Bahari tampak berdiri di atas ponton sandar sambil sesekali menutupi wajah dari terik matahari. Tidak ada lagi atap yang menaungi mereka.

Sudah lebih dari satu bulan berlalu sejak atap ponton sandar Kapal Cepat Bahari ambruk diterjang angin kencang pada Sabtu sore, 6 Juni 2026. Namun hingga pertengahan Juli ini, belum terlihat adanya pekerjaan perbaikan dari pihak PT ASDP Indonesia Ferry.

Bagi sebagian orang, kerusakan itu mungkin hanya sebatas atap yang roboh. Namun bagi para penumpang yang setiap Senin, Rabu, dan Jumat menggunakan layanan kapal cepat, kondisi tersebut menjadi persoalan kenyamanan yang dirasakan secara langsung.

Ketika kapal bersandar, para penumpang yang baru tiba dari Palembang maupun yang hendak berangkat ke Sumatera Selatan kini harus menerima kenyataan berdiri di bawah panas matahari atau berlarian menghindari hujan.

“Sudah lebih dari sebulan kondisinya seperti ini. Seharusnya fasilitas pelayanan publik menjadi prioritas untuk segera diperbaiki. Kalau terus dibiarkan, tentu kenyamanan masyarakat sebagai pengguna jasa akan terganggu,” ujar salah seorang pengguna jasa di Pelabuhan Tanjung Kalian.

Keluhan itu bukan tanpa alasan. Kapal Cepat Bahari masih beroperasi secara rutin dan tetap menggunakan ponton tersebut sebagai tempat sandar. Artinya, aktivitas pelayanan publik di lokasi itu tidak pernah benar-benar berhenti.

Bahkan, setiap kali kapal bersandar, operator kapal tetap membayar retribusi kepada PT ASDP Indonesia Ferry sebagai pengelola pelabuhan. Karena itu, masyarakat menilai perbaikan fasilitas yang rusak seharusnya menjadi perhatian utama.

Sorotan publik pun semakin menguat ketika di saat yang sama, proyek pembangunan Dermaga II Pelabuhan Tanjung Kalian senilai sekitar Rp 60 miliar sedang berjalan dan ditargetkan selesai pada Desember 2026.

Besarnya nilai investasi tersebut membuat sebagian masyarakat bertanya-tanya mengapa perbaikan sebuah atap ponton justru membutuhkan waktu yang cukup lama.

Menanggapi hal itu, General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Bangka, Agustinus Cahyo, menjelaskan bahwa perbaikan tidak dapat dilakukan secara instan karena harus melalui mekanisme administrasi perusahaan.

“Prosesnya dimulai dari evaluasi kerusakan, penyusunan kebutuhan biaya, hingga memperoleh persetujuan anggaran dari kantor pusat. Seluruh tahapan itu diperkirakan membutuhkan waktu sekitar satu sampai dua bulan,” jelas Cahyo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!