Berita

Ruah Cup Tempilang 2026: Sepak Bola Desa, Panggung Prestasi dan Arah Baru Pembinaan Olahraga Bangka Barat

62
×

Ruah Cup Tempilang 2026: Sepak Bola Desa, Panggung Prestasi dan Arah Baru Pembinaan Olahraga Bangka Barat

Sebarkan artikel ini

Penulis: Belva Al Akhab dan Satrio
TEMPILANG, Beeita5.co.id  — Turnamen sepak bola antar desa paling bergengsi di Bangka Belitung, Ruah Cup Tempilang 2026, kembali membuktikan diri bukan sekadar ajang kompetisi olahraga, tetapi juga ruang sosial, budaya dan pembangunan prestasi.

Ribuan pasang mata memadati Lapangan Sepak Bola Persit Air Lintang, Kamis (5/2/2026), menyaksikan laga semifinal yang menegangkan hingga detik terakhir.

Kesebelasan Himawari Desa Labu memastikan tiket ke partai puncak setelah menundukkan Rajawali Desa Ranggung melalui drama adu penalti dengan skor 4–3, usai bermain imbang tanpa gol selama 2 x 30 menit.

Di semifinal lainnya, Persiraja Desa Jelutung tampil meyakinkan dengan kemenangan 2–0 atas Bayangtara Desa Tiangtarah.

Kehadiran langsung Wakil Bupati Bangka Barat, H. Yus Derahman, di tengah terik matahari dan padatnya penonton, menjadi penanda kuat bahwa olahraga desa kini ditempatkan sebagai instrumen strategis peningkatan prestasi sekaligus perekat sosial masyarakat.

Sejak peluit awal dibunyikan wasit Abu Hanifah, tensi pertandingan Himawari Labu kontra Rajawali Ranggung langsung meninggi.

Jual beli serangan, benturan fisik, dan duel satu lawan satu mendominasi permainan.

Wasit harus mengeluarkan dua kartu kuning untuk Rajawali Ranggung dan satu kartu kuning untuk Himawari Labu demi menjaga ritme pertandingan tetap terkendali.

Di tribun alami yang dibatasi pagar kayu sederhana, ribuan penonton dari anak-anak hingga orang tua duduk berjejal.

Beberapa berdiri, sebagian lain duduk di tanah berumput yang dipenuhi sisa botol minuman.

Sorak-sorai, teriakan instruksi, dan tepuk tangan menjadi orkestrasi khas sepak bola rakyat. Wajah-wajah tegang berubah harap-harap cemas saat adu penalti dimulai.

Seorang penonton, Andi (37), warga Tempilang, mengaku pertandingan ini lebih dari sekadar hiburan.

“Kami datang bukan cuma nonton bola. Ini soal harga diri desa. Anak-anak muda kami main, kami dukung sepenuh hati,” ujarnya.

Empat eksekutor Himawari Labu sukses menjalankan tugasnya dengan tenang.

Sementara satu penendang Rajawali Ranggung gagal mengonversi peluang. Skor akhir 4–3 memastikan Himawari Labu melaju ke grand final.

Pelatih Himawari Labu menyebut kemenangan ini sebagai hasil pembinaan mental dan disiplin latihan.

“Kami fokus pada fisik dan mental. Penalti itu soal keberanian dan ketenangan,” katanya usai pertandingan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!