Penulis: Belva Al Akhab dan Satrio
MENTOK, Berita5.co.id — Di Gedung Majapahit Pusmet Mentok, Jumat malam, 6 Februari 2026, seni tidak sekadar dipentaskan. Ia dipanggil, dirayakan dan diberi tempat.
Seruni Art Festival 2026 menjadi penanda bahwa di Bangka Barat, kesenian masih dianggap penting bukan sebagai ornamen seremoni, melainkan sebagai denyut kebudayaan yang menentukan arah masa depan daerah.
Melalui undangan resmi yang disampaikan kepada berbagai unsur masyarakat, Pemerintah Kabupaten Bangka Barat secara terbuka mengajak publik hadir menyaksikan sebuah peristiwa budaya. Ajakan itu sederhana, namun sarat makna bahwa negara hadir, membuka ruang dan memberi legitimasi bagi kerja panjang pelaku seni.
Festival yang digelar mulai pukul 19.30 WIB tersebut bukan hanya agenda seremonial. Ia merupakan ujian akhir kelulusan Yayasan Seruni, sekaligus ruang ekspresi bagi generasi muda Bangka Barat untuk menunjukkan hasil latihan, disiplin dan kesetiaan mereka pada seni tari daerah.
Dalam sambutan pembukaan acara, Bupati Bangka Barat, Markus, S.H., menegaskan bahwa Seruni Art Festival 2026 tidak bisa dipandang semata sebagai kegiatan akademik atau hiburan.
“Kegiatan ini bukan sekadar ujian akhir sebagai syarat kelulusan, melainkan sebuah pergelaran budaya dan pariwisata yang menampilkan kreativitas, kerja keras, serta dedikasi generasi muda Kabupaten Bangka Barat,” ujar Markus di hadapan hadirin.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal jelas bahwa pemerintah daerah memosisikan seni sebagai bagian dari strategi kebudayaan dan pariwisata. Dalam konteks daerah yang lama bertumpu pada sektor ekstraktif, pendekatan ini menunjukkan upaya perlahan untuk menata ulang orientasi pembangunan.
Di atas panggung, anak-anak dan remaja menari dengan kostum tradisional. Gerak mereka bukan sekadar koreografi, melainkan jejak panjang ingatan kolektif masyarakat Bangka Barat tentang laut, tanah dan relasi manusia dengan alam.
Bupati Markus menyebut para penampil sebagai generasi penerus penjaga kebudayaan.
“Kalian semua adalah generasi penerus yang akan menjaga dan melestarikan seni tari serta budaya daerah Bangka Barat. Sudah sepantasnya kalian merasa bangga,” ucapnya.
Pandangan ini sejalan dengan pemikiran antropolog Koentjaraningrat, yang dalam Pengantar Ilmu Antropologi menyebut kebudayaan sebagai sistem makna hidup. Seni, menurutnya, bukan sekadar ekspresi estetika, tetapi bagian dari nilai yang membentuk cara masyarakat memahami diri dan dunianya.
Di Bangka Barat, seni tari hidup sebagai bahasa identitas.
Namun di balik gemulai gerak dan sorot lampu, ada kegelisahan yang jarang terdengar. Seorang pelatih tari lokal mengungkapkan kekhawatirannya akan keberlanjutan seni tradisi.
“Kalau tidak ada ruang seperti festival ini, anak-anak akan lebih cepat mengenal tarian viral daripada tari daerahnya sendiri,” ujarnya.
Kegelisahan ini menemukan pijakannya dalam dokumen Strategi Pemajuan Kebudayaan Nasional yang diterbitkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Dokumen tersebut menegaskan bahwa regenerasi pelaku budaya adalah titik paling rapuh dalam ekosistem kebudayaan Indonesia. Tanpa dukungan negara, seni tradisi berisiko terputus dalam satu generasi.












