Penulis: Medi Hestri, Belva Al Akhab dan Satrio
TEMPILANG, Berita5.co.id — Air laut di Tanjung Niur tidak selalu biru. Kadang ia kelabu seperti ingatan tambang yang belum sembuh. Kadang ia sunyi seperti doa nelayan yang belum dijawab.
Di tepian air itu, suara pengeras kecil dari seorang Bhabinkamtibmas memecah pagi, seperti lonceng peringatan yang tidak ingin terlambat.
“Kami menghimbau masyarakat Dusun Pelai dan Dusun Tanjung untuk berhati-hati saat memancing atau melintasi sawah dan perkebunan sawit, waspadai ancaman buaya dan predator lainnya,” ucap Bhabinkamtibmas Desa Tanjung Niur, Sabtu (14/02/2026).
Suara itu bukan sekadar imbauan.
Ia adalah tanda bahwa negara hadir di desa kecil yang jauh dari pusat kota.
Ia datang dari anggota polisi desa yang ditugaskan oleh Polsek Tempilang, sebuah institusi yang perlahan membangun citra bukan hanya sebagai penegak hukum, tetapi penjaga nyawa warga.
Polsek Tempilang melalui Bhabinkamtibmas Desa Tanjung Niur mengeluarkan imbauan resmi kepada warga Dusun Pelai dan Dusun Tanjung agar berhati-hati saat beraktivitas di perairan, sawah dan perkebunan sawit karena meningkatnya kemunculan predator seperti buaya dan ular.
Imbauan itu menyusul laporan warga tentang bayangan predator di muara sungai dan rawa sekitar desa.
Polisi menegaskan bahwa aktivitas memancing atau mencari ikan di wilayah tersebut harus dilakukan dengan kewaspadaan tinggi.
Dalam beberapa bulan terakhir, warga melihat air tiba-tiba beriak tanpa angin.
Ikan meloncat panik.
Burung-burung terbang rendah.
Warga menyebutnya “penunggu rawa.”
Ilmu pengetahuan mengenalnya sebagai buaya muara (Crocodylus porosus), predator purba yang mampu hidup di sungai, rawa, hingga laut.
Di Bangka Belitung, konflik manusia dan buaya meningkat seiring perubahan habitat akibat tambang dan pembukaan perkebunan.
Di tempat rawa berubah menjadi kebun, predator kehilangan rumah.
Di tempat manusia membuka ladang, manusia kehilangan rasa aman.
Di tengah benturan itu, polisi hadir membawa pesan keselamatan.
Bhabinkamtibmas Desa Tanjung Niur tidak membawa sirene.
Ia membawa kalimat sederhana:
Hati-hati memancing di sawah atau kebun sawit.
Hindari jalur rawa saat malam.
Waspada di laut dan muara.
Kalimat-kalimat itu sederhana, tetapi di desa kecil, ia menjadi doa keselamatan.
Itulah langkah kebaikan Polsek Tempilang, membangun citra polisi sebagai penjaga desa sebelum bencana datang.
Bukan setelah korban jatuh.
Bukan setelah berita viral.
Tetapi sebelum tragedi terjadi.
Hasan dan Bayangan Hitam di Air
Hasan (45), nelayan kecil Dusun Pelai, pernah melihat bayangan panjang di muara.












