BANGKABELITUNG, Berita5.co.id — Wacana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) kembali mengemuka di Indonesia.
Pemerintah pusat menyebut energi nuklir sebagai salah satu opsi strategis dalam transisi menuju energi bersih.
Namun, rencana besar ini menimbulkan dilema nasional dan gejolak lokal, terutama setelah muncul rencana pembangunan PLTN berbasis thorium oleh PT Thorcon Power Indonesia di Pulau Gelasa, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel).
Di satu sisi, kebutuhan energi bersih dan keandalan pasokan listrik jangka panjang menjadi alasan kuat.
Di sisi lain, muncul kekhawatiran akan risiko keselamatan, kesiapan SDM, regulasi, dan penerimaan sosial masyarakat daerah.
Menurut Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, pemerintah telah memasukkan rencana pembangunan PLTN pertama berkapasitas sekitar 500 MW yang ditargetkan beroperasi pada dekade berikutnya.
Pemerintah juga tengah membahas potensi kapasitas hingga beberapa gigawatt untuk jangka panjang.
Pendukung PLTN menilai, tenaga nuklir mampu menjadi base-load energy yang stabil dan rendah emisi karbon.
Teknologi baru seperti Small Modular Reactor (SMR) dinilai cocok untuk negara kepulauan seperti Indonesia karena berskala kecil, modular, dan lebih cepat dibangun.
Namun, sejumlah pakar memperingatkan bahwa ekosistem pendukung PLTN di Indonesia belum matang, mulai dari rantai pasok, industri komponen, hingga regulasi keselamatan dan pengawasan.
UU No. 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran bahkan tengah direvisi agar selaras dengan kebutuhan investasi komersial dan aspek keamanan modern.
“Indonesia belum punya ekosistem yang siap sepenuhnya. Bukan hanya soal teknologi, tapi juga soal SDM dan kelembagaan,” ujar salah satu pejabat Bappenas dalam forum energi nasional (2025).
Indonesia masih kekurangan tenaga ahli reaktor, operator berpengalaman, dan insinyur keselamatan nuklir.
Sementara itu, risiko bencana alam seperti gempa dan tsunami menjadi pertimbangan penting mengingat kondisi geografis Indonesia.
Pengalaman internasional, termasuk insiden Fukushima 2011, menjadi pengingat bahwa keselamatan dan transparansi publik adalah kunci kepercayaan sosial terhadap proyek nuklir.
Selain risiko kecelakaan, pengelolaan limbah radioaktif jangka panjang juga menjadi isu yang sensitif secara politik dan sosial.
Pulau Gelasa di Bangka Tengah mendadak jadi sorotan ketika PT Thorcon Power Indonesia mengumumkan rencana uji proyek PLTN berbasis thorium dengan teknologi SMR.
Proyek ini diklaim aman, ramah lingkungan, dan menjadi pilot project untuk energi masa depan Indonesia.












