Berita

Persatuan Nelayan Tempilang, Ombak Keadilan di Laut yang Dikapling Timah

98
×

Persatuan Nelayan Tempilang, Ombak Keadilan di Laut yang Dikapling Timah

Sebarkan artikel ini

Di tengah situasi ini, Baidi memilih jalan yang berbeda, melawan dengan kepedulian.

Ia mengumpulkan donasi kecil dari sesama nelayan, membeli seng, paku, dan peralatan sederhana untuk memperbaiki rumah anggota kelompoknya yang rusak akibat badai.

“Nelayan Batu Peyu tidak punya banyak uang, tapi kami punya kebersamaan. Itu yang perusahaan tidak punya,” katanya.
Foto yang dikirimkan kepada redaksi menunjukkan senyum lelah namun tulus wajah-wajah yang disinari semangat, bukan lampu panggung.

Solidaritas itu tumbuh diam-diam, seperti akar bakau yang mencengkeram lumpur agar pantai tak runtuh.

Mereka sadar bahwa perjuangan ini tidak hanya soal uang kompensasi, tapi juga tentang martabat yang perlahan dikikis tambang.

Reklamasi yang Hanya Janji
Konflik tambang laut Tempilang bukan hanya persoalan ekonomi.

Ia adalah puisi yang patah di tengah pembangunan.

Reklamasi yang dijanjikan PT Timah dan rekanan disebut “hanya kata tanpa tanah.”

Dalam wawancara sebelumnya, aktivis lingkungan Medi Hestri menyebut bahwa reklamasi di Tempilang hanyalah “reklamasi kosong” tanpa pemulihan ekosistem, tanpa pengawasan transparan.

Kini, pantai-pantai yang dulu menjadi tempat anak-anak bermain dan nelayan menjemur jaring, berubah menjadi garis luka.

Pohon-pohon bakau mati berdiri seperti saksi bisu, menatap laut yang telah berubah warna.

Ketegangan antara nelayan dan penambang sempat memuncak saat Baharudin melaporkan aktivitas tambang ilegal di sekitar tambatan perahu Pelabuhan Belilik.

Polsek Tempilang merespons cepat, menutup area sementara untuk penyelidikan.

Namun, seperti ombak yang datang dan pergi, tambang itu muncul lagi dengan wajah baru.

“Yang kami lawan bukan orangnya, tapi sistemnya. Sistem yang membuat kami selalu di bawah,” kata Baharudin.

Ia menolak disebut provokator; baginya, menjadi nelayan adalah soal bertahan, bukan melawan.

Tapi kalau laut diambil, apa lagi yang tersisa?

Di negeri ini, kata Baidi, tambang lebih dihormati daripada nelayan.

Laut bukan lagi tempat mencari hidup, tapi panggung perebutan kuasa.

Birokrasi seperti badai yang berputar-putar sepeti sibuk memindahkan pasir, tapi lupa pada perahu yang karam.

“Lucu ya, kami diminta sabar. Tapi sabar juga ada batasnya,” ucapnya menutup percakapan.

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana, tapi di baliknya tersimpan amarah yang tenang amarah yang tumbuh dari laut yang tak lagi bebas, dari anak-anak nelayan yang kini takut berenang karena lautnya kotor, dari janji-janji reklamasi yang tinggal di brosur.

Feature ini bukan sekadar cerita tentang seng, kompensasi, atau surat nota pembelian sederhana.

Ia adalah cerita tentang manusia nelayan yang tetap tersenyum walau dunia di sekitarnya retak oleh tambang.

Tentang Baidi yang menyerahkan seng dengan kedua tangan yang pecah-pecah, dan Baharudin yang masih percaya bahwa keadilan bisa datang, meski lambat seperti ombak.

Di Tempilang, laut bukan sekadar air asin. Ia adalah ingatan, sejarah, dan doa yang ditulis di atas pasir.

Dan selagi masih ada nelayan yang berani berbicara, laut belum sepenuhnya dikalahkan. (B5)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!