Jus War dari kesebelasan
Oli Sang Perancang Badai
III. Kursi Perbendaharaan Investasi dan Gerbang Pelayanan Istana
Adapun nama calon yaitu:
Madam Bertahan Seruni Emas
Irsal Mir Mantri Tiga Gelar
Sirat Sang Penjaga Lautan Api
IV. Kursi Penjaga Lingkungan dan Nafas Negeri
Adapun nama calon yaitu:
Berjaya Tuan Seribu Dua
Rusip Serban Hitam
Tulis Sang Arsitek Tanah
V. Kursi Suara Kerajaan dan Menara Informasi
Adapun nama calon yaitu:
Bercahaya dari Suku Seribu Dua
Sekaput Sang Hakim
Romeo Sang Ekonom Langit
Setelah nama-nama dibacakan, balairung hening.
Yang bersinar berubah menjadi cahaya.
Yang kalah berubah menjadi kabut.
Yang tidak dipilih berubah menjadi gumam yang hidup di warung kopi dan lorong-lorong pasar.
Di Negeri dari Barat, rakyat tidak pernah marah keras.
Mereka hanya menghela napas panjang napas yang membawa asin laut, kelelahan, dan kebijaksanaan yang dipaksa tumbuh terlalu cepat.
Karena mereka tahu bahwa
Kebenaran tidak mati. Ia hanya sering tidak diundang ke rapat kerajaan.
Tanah tempat aturan diperlakukan seperti kitab suci,
tapi dianggap pamflet ketika tak sesuai keinginan.
Tanah tempat Pansel menjunjung integritas,
sementara kunci integritas kadang berpindah tangan
di malam yang terlalu sepi untuk dicatat sejarah.
Tanah tempat kandidat berjuang seperti penyair mencari metafora,
namun kalah karena puisinya tidak sejalan dengan nada kekuasaan.
Tanah tempat rakyat menjadi penonton setia,
meski lakonnya selalu sama
meski aktornya berganti.
Jika kritik ini seperti pedang, itu karena pedangnya sudah tumpul oleh luka yang terlalu sering.
Jika prosa ini seperti doa penuh kemarahan, itu karena Negeri dari Barat terlalu lama hidup dari dusta yang berputar-putar seperti angin laut yang tak pernah pergi.
Negeri dari Barat bukanlah fiksi.
Ia adalah cermin.
Jika seseorang melihat dirinya di dalamnya,
itu bukan salah cermin
itu salah bayangan yang selama ini ia biarkan tumbuh.












