Berita

Perebutan Kursi di Negeri dari Barat, Dari Tanah yang Selalu Mengulang Dusta yang Sama

41
×

Perebutan Kursi di Negeri dari Barat, Dari Tanah yang Selalu Mengulang Dusta yang Sama

Sebarkan artikel ini

Jus War dari kesebelasan

Oli Sang Perancang Badai

III. Kursi Perbendaharaan Investasi dan Gerbang Pelayanan Istana
Adapun nama calon yaitu:

Madam Bertahan Seruni Emas

Irsal Mir Mantri Tiga Gelar

Sirat Sang Penjaga Lautan Api

IV. Kursi Penjaga Lingkungan dan Nafas Negeri
Adapun nama calon yaitu:

Berjaya Tuan Seribu Dua

Rusip Serban Hitam

Tulis Sang Arsitek Tanah

V. Kursi Suara Kerajaan dan Menara Informasi
Adapun nama calon yaitu:

Bercahaya dari Suku Seribu Dua

Sekaput Sang Hakim

Romeo Sang Ekonom Langit

 

Setelah nama-nama dibacakan, balairung hening.
Yang bersinar berubah menjadi cahaya.
Yang kalah berubah menjadi kabut.
Yang tidak dipilih berubah menjadi gumam yang hidup di warung kopi dan lorong-lorong pasar.

Di Negeri dari Barat, rakyat tidak pernah marah keras.
Mereka hanya menghela napas panjang napas yang membawa asin laut, kelelahan, dan kebijaksanaan yang dipaksa tumbuh terlalu cepat.

Karena mereka tahu bahwa
Kebenaran tidak mati. Ia hanya sering tidak diundang ke rapat kerajaan.

Tanah tempat aturan diperlakukan seperti kitab suci,
tapi dianggap pamflet ketika tak sesuai keinginan.

Tanah tempat Pansel menjunjung integritas,
sementara kunci integritas kadang berpindah tangan
di malam yang terlalu sepi untuk dicatat sejarah.

Tanah tempat kandidat berjuang seperti penyair mencari metafora,
namun kalah karena puisinya tidak sejalan dengan nada kekuasaan.

Tanah tempat rakyat menjadi penonton setia,
meski lakonnya selalu sama
meski aktornya berganti.

Jika kritik ini seperti pedang, itu karena pedangnya sudah tumpul oleh luka yang terlalu sering.

Jika prosa ini seperti doa penuh kemarahan, itu karena Negeri dari Barat terlalu lama hidup dari dusta yang berputar-putar seperti angin laut yang tak pernah pergi.

Negeri dari Barat bukanlah fiksi.
Ia adalah cermin.
Jika seseorang melihat dirinya di dalamnya,
itu bukan salah cermin
itu salah bayangan yang selama ini ia biarkan tumbuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *