Berita

Perebutan Kursi di Negeri dari Barat, Dari Tanah yang Selalu Mengulang Dusta yang Sama

37
×

Perebutan Kursi di Negeri dari Barat, Dari Tanah yang Selalu Mengulang Dusta yang Sama

Sebarkan artikel ini

Penulis cerita novel fiksi: Sari, Ani dan Indri

BERITA5.CO.ID — Di Negeri dari Barat, tanah yang dikelilingi angin laut dan sejarah yang lebih asin dari air pasang, setiap lima tahun sekali rakyat menyaksikan sebuah upacara purba.

Lebih licin dari janji kampanye, lebih tua dari beringin keramat Kerajaan, dan lebih sering diulang daripada rapat yang selalu “ditunda sampai ditemukan waktu yang tepat”.

Upacara itu disebut orang-orang dengan sebutan Pemilihan Penjaga Kursi Kerajaan,
sebuah ritual yang menentukan siapa yang pantas menduduki kursi yang lebih panas dari bara neraka, dan lebih berbahaya dari kebenaran yang lama dipasung.

Di Negeri dari Barat, aturan ditulis dengan tinta emas, dibacakan dengan suara para pendeta hukum, tetapi dipatuhi sebagai hiasan museum kekuasaan.

Kitab Netralitas nomor 5/2014: disuarakan seperti azan, tapi diperlakukan seperti angin malam yang dibiarkan lewat begitu saja.

Surat Meritokrasi 11/2017: dibacakan seperti mantra agung, tapi lenyap ketika keputusan harus diambil.

Piagam Transparansi 15/2019: jernih seperti air mata bayi, tetapi tetap tidak boleh diminum rakyat.

Kitab Objektivitas 26/2019: objektif seperti mata air gunung, namun sungai yang mengalir selalu menuju rumah-rumah tertentu.

Aturan-aturan itu disimpan rapi dalam Laci Agung Sang Panitia Kerajaan, laci yang hanya dibuka bila penyair, jurnalis, dan pencari fakta datang mengintip. Setelah itu, laci kembali dikunci dengan cepat, seperti aib keluarga ningrat.

Para Pansel Kerajaan duduk berbaris.
Wajah mereka seperti topeng yang dipakai turun-temurun.
Senyum profesional, mata tajam, hati membaca arah angin.

Ketika rakyat bertanya perihal titipan, mereka menjawab dengan kalimat yang diwariskan sejak masa penjajahan:

“Titipan tidak ada di negeri ini.”

Dan rakyat tersenyum pahit, karena di Negeri dari Barat, yang tidak ada justru keberanian untuk mengaku ada.

Mereka membawa berkas seperti sesajen,
prestasi seperti dupa,
dan harapan seperti benang tipis yang siap putus bila disentuh kekuasaan.

Dan berikutlah para calon Penjaga Kursi,
nama-nama mereka diubah oleh rakyat menjadi nama alegoris
nama yang tidak memalukan siapa pun,
tetapi cukup pedas untuk membuat Kerajaan berkeringat dingin.

DAFTAR CALON PENJAGA KURSI KERAJAAN

Sebagaimana Dibacakan Dalam Balairung Rembulan, 9 Saka Tahun Gelombang Bulan Terang ke-25

I. Kursi Agung Kesatuan Negeri dan Politik Istana

Adapun nama calon yaitu:

Tuan As dari Devka

Nyonya Berlian

Sir Than dari Ip Klap

II. Kursi Angkutan Kerajaan dan Rumah-Rumah Rakyat
Adapun nama calon yaitu:

Puteri Sekawan Eng Baru

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!