Berita

Pengembaraan Pramuka Simpang Teritip Menyusuri Alam dan Sejarah Tanjung Kalian

160
×

Pengembaraan Pramuka Simpang Teritip Menyusuri Alam dan Sejarah Tanjung Kalian

Sebarkan artikel ini

Pantai Tanjung Kalian dipilih sebagai titik akhir bukan semata karena nilai estetika. Kawasan ini merupakan simpul penting sejarah maritim Bangka Barat. Mercusuar Tanjung Kalian, yang berdiri sejak era kolonial, menjadi saksi lalu lintas kapal pengangkut timah dan dinamika ekonomi pulau Bangka.

Bagi Pramuka, mercusuar bukan hanya bangunan bersejarah, tetapi simbol arah dan keteguhan nilai yang sejalan dengan filosofi Pramuka dalam menuntun generasi muda agar tidak kehilangan orientasi di tengah perubahan zaman.

Sejumlah kajian sejarah lokal menempatkan Tanjung Kalian sebagai bagian penting pembentukan Mentok sebagai kota pelabuhan. Dengan menjadikan lokasi ini sebagai tujuan akhir, pengembaraan Pramuka mengaitkan pendidikan karakter dengan memori kolektif dan identitas daerah.

Pembina Pramuka SMA Negeri 1 Simpang Teritip menegaskan bahwa pengembaraan Prasmanter adalah bentuk pendidikan yang tidak dapat digantikan oleh metode pembelajaran instan.

“Anak-anak ini belajar bukan dari teori, tapi dari situasi nyata. Mereka belajar mengatur diri, bekerja sama, dan bertanggung jawab. Pendidikan karakter seperti ini tidak bisa dipercepat dan tidak bisa digantikan dengan pembelajaran di ruang kelas,” ujarnya.

Menurutnya, pengembaraan Prasmanter menyediakan ruang aman bagi remaja untuk menghadapi kegagalan, belajar dari kesalahan, lalu bangkit kembali sesuatu yang kerap hilang dalam sistem pendidikan yang terlalu berorientasi pada hasil akhir.

Meski diakui penting secara konseptual, pendidikan berbasis alam masih belum menjadi arus utama kebijakan pendidikan nasional. Banyak kegiatan Pramuka di sekolah berjalan dengan dukungan terbatas, bergantung pada dedikasi pembina dan swadaya peserta.

Padahal, berbagai dokumen internasional termasuk laporan UNESCO tentang Education for Sustainable Development menegaskan bahwa krisis lingkungan global hanya dapat dijawab melalui pendidikan yang membangun kesadaran ekologis sejak dini.

Dalam konteks ini, pengembaraan Pramuka seperti Pengater 2026 tampil sebagai praktik pendidikan yang hidup, namun kerap berjalan di pinggir sistem. Kondisi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa Pramuka sesungguhnya adalah aset strategis bangsa dalam membentuk generasi berkarakter, berdaya tahan, dan peduli lingkungan.

Hanya 18 peserta. Namun dari langkah-langkah panjang itu, Pramuka menunjukkan pesan besar tentang masa depan pendidikan. Di Pantai Tanjung Kalian, ketika perjalanan berakhir dan laut terbentang luas, para Pramuka tidak hanya menyelesaikan pengembaraan fisik.

Mereka menuntaskan satu proses pembentukan diri tentang batas kemampuan, arti kebersamaan dan tanggung jawab terhadap alam serta sejarah.

Pengembaraan ini selesai. Namun nilai yang dibawa pulang yaitu kesadaran diri, solidaritas dan kepedulian lingkungan menjadi modal penting bagi lahirnya generasi muda yang tangguh dan berkarakter. (B5)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *