Berita

Pengembaraan Pramuka Simpang Teritip Menyusuri Alam dan Sejarah Tanjung Kalian

148
×

Pengembaraan Pramuka Simpang Teritip Menyusuri Alam dan Sejarah Tanjung Kalian

Sebarkan artikel ini

Penulis: Belva Al Akhab dan Satrio

MENTOK, Berita5.co.id — Ketika pendidikan modern kian terjebak pada ruang kelas, gawai dan capaian angka, Gerakan Pramuka justru menunjukkan wajah lain pendidikan yaitu mendidik dengan berjalan, dengan berkeringat, dan dengan berjumpa langsung pada alam serta sejarah. Itulah yang dilakukan 18 Pramuka Penegak SMA Negeri 1 Simpang Teritip melalui Pengater 2026 (Pengembaraan Prasmanter), sebuah perjalanan tiga hari dua malam dari Desa Pelangas, Kecamatan Simpang Teritip, menuju Pantai Tanjung Kalian, Mentok.

Pengembaraan ini menegaskan kembali jati diri Pramuka sebagai kawah candradimuka pendidikan karakter, bukan sekadar kegiatan ekstrakurikuler pelengkap. Di jalan panjang itu, nilai kemandirian, kepemimpinan, disiplin dan kerja sama tidak diajarkan lewat teori, melainkan ditempa melalui pengalaman nyata.

“Nama kegiatannya Pengater 2026, pengembaraan Prasmanter. Pesertanya 18 orang. Rutenya dari SMA Negeri 1 Simpang Teritip ke Pantai Tanjung Kalian, Mentok. Perjalanannya tiga hari dua malam,” ujar salah satu peserta, Minggu (01/02/2026).

Selama pengembaraan, para Pramuka mengelola logistik secara mandiri, mengatur ritme perjalanan, membangun komunikasi kelompok, serta menyelesaikan persoalan internal tanpa bergantung pada kenyamanan instan. Di sinilah Pramuka bekerja sebagai sistem pendidikan karakter yang konkret.

Model ini sejalan dengan pendekatan experiential learning, yang menempatkan pengalaman langsung sebagai sumber utama pembentukan pengetahuan dan sikap. Dalam konteks generasi muda yang kian jauh dari realitas sosial dan alam, pengembaraan Pramuka menjadi praktik pendidikan yang relevan dan mendesak.

Sejumlah kajian pendidikan dan lingkungan menegaskan bahwa keterputusan anak muda dari alam berkontribusi pada melemahnya empati sosial dan kesadaran ekologis. Pramuka, melalui pengembaraan, justru menjembatani kembali hubungan itu.

“Kami ikut Pramuka untuk menciptakan rasa mandiri, menjalin kerja sama dalam organisasi, dan mengembangkan potensi diri,” kata salah satu peserta.

Pernyataan ini memperlihatkan bahwa Pramuka bukan sekadar wadah kegiatan, melainkan ruang pembentukan watak dan kepemimpinan generasi muda.

Rute pengembaraan dari Simpang Teritip menuju Mentok membawa para peserta melintasi kawasan pesisir dan perkampungan yang selama puluhan tahun hidup berdampingan dengan eksploitasi sumber daya alam. Bangka Belitung, dengan sejarah panjang pertambangan timah, menyimpan jejak ekologis yang nyata dari kolong bekas tambang hingga tekanan pesisir.

Tanpa harus menjadi studi lingkungan formal, pengembaraan ini menghadirkan kesadaran ruang. Alam tidak diposisikan sebagai latar belakang, melainkan sebagai bagian dari proses belajar. Para Pramuka berhadapan langsung dengan lanskap yang membentuk kehidupan masyarakatnya.

Pendekatan ini selaras dengan konsep ecological literacy, yang menekankan pentingnya pengalaman langsung agar generasi muda memahami hubungan manusia dengan lingkungannya secara utuh dan bertanggung jawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!