Berita

Pemkab Hadir di Tengah Genangan: Kepala BPBD Tegaskan Dapur Umum dan Peringatan Dini Sebagai Benteng Kemanusiaan Kampung Tanjung

39
×

Pemkab Hadir di Tengah Genangan: Kepala BPBD Tegaskan Dapur Umum dan Peringatan Dini Sebagai Benteng Kemanusiaan Kampung Tanjung

Sebarkan artikel ini

Penulis: Satrio, Belva Al Akhab dan Tim

MENTOK, Berita5.co.id  — Dapur umum yang didirikan Pemerintah Kabupaten Bangka Barat pada Senin (08/12/2025) di Gedung Serbaguna Kecamatan Mentok menjadi pusat kehidupan baru bagi warga Kampung Tanjung yang kembali diguyur banjir.

Di antara kepulan uap sayur hangat dan langkah relawan yang tak pernah berhenti, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bangka Barat, H. Safrizal, S.E, menegaskan bahwa pemerintah sudah sejak awal memberikan peringatan, bersiaga, dan membaca tanda-tanda alam sebelum banjir merendam perkampungan pesisir tersebut.

“Kami sudah memberikan warning berulang kali. Apel siaga, penyebaran berita peringatan, pemantauan pasang semuanya sudah dilakukan. Tapi bencana ini memang keras kepala,” ujarnya membuka keterangan resmi di dapur umum.

Menurut Safrizal, sejak Sabtu BPBD telah memantau naik-turunnya pasang laut.
“Minggu itu 42, hari ini 43 yang tertinggi. Dan jam 09.52 pagi tadi itu puncaknya.”

Hari Minggu, kata dia, banjir masih dapat ditekan karena air cepat surut.
“Tapi hari ini dua-duanya ketemu. Pagi dihajar hujan dari subuh, jam sembilan sampai sepuluh dihantam rob. Jadilah lama,” ucapnya sambil menghela napas.

Ia menegaskan bahwa kondisi bisa jauh lebih parah bila hujan dan rob bertemu di titik yang sama.
“Hari ini kita masih diberi sedikit keberuntungan.”

Besok, potensi masih ada.
“Besok itu 42 juga. Rentang pasangnya panjang dari jam sembilan sampai sebelas. Kita doakan tidak hujan seperti tadi pagi,” katanya.

Di sela kesibukan relawan membungkus nasi, Safrizal berbicara dengan nada yang lebih lembut bukan sebagai pejabat, tetapi sebagai manusia yang memahami getirnya sebuah genangan yang menelan ruang hidup warga.

“Bencana itu bukan musuh yang datang tiba-tiba. Ia memberi tanda-tanda. Ia berbisik lewat curah hujan, angka pasang, awan yang cepat gelap. Tugas kami membaca bisikan itu dan mengingatkan masyarakat bahwa kita harus saling menjaga.” jelasnya dengan nada lembut.

Ia memandang panci besar yang terus diaduk relawan.

“Penanggulangan bencana bukan hanya soal sirene dan peralatan. Ini soal hati yang siap, pikiran yang waspada, dan masyarakat yang mau bergandengan tangan. Bencana tidak memilih siapa yang kaya atau miskin—ia datang ke semua. Maka cara kita berdiri harus sama: bersatu.” tambahnya.

Dalam pernyataannya, Safrizal menekankan bahwa pemerintah terus berupaya memastikan banjir tidak menjadi agenda tahunan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!