Berita

Fadilah dan Para Wartawan: Aksi Kemanusiaan di Tengah Rob Mentok Kampung Tanjung dan Pesisir Pasar Mentok

45
×

Fadilah dan Para Wartawan: Aksi Kemanusiaan di Tengah Rob Mentok Kampung Tanjung dan Pesisir Pasar Mentok

Sebarkan artikel ini

Laporan Khusus: Satrio, Belva Al Akhab dan Tim

MENTOK, Berita5.co.id — Kampung Tanjung yang basah oleh air rob kembali menahan napas pada Selasa pagi, 9 Desember 2025.

Lumpur masih segar, bau garam laut belum hilang dari dinding rumah-rumah panggung, dan warga masih berjalan dengan langkah pelan seolah takut memecahkan kesunyian setelah bencana.

Namun, di antara sisa genangan dan kecemasan, sebuah pemandangan yang tak tercatat dalam protokol kebencanaan muncul seperti jeda dari kekalutan.

Seorang perempuan biasa bernama Fadilah, datang bersama empat wartawan: Belva Al Akhab, Agus, Komarudin, dan Rudi. Mereka membawa harapan dalam bentuk yang paling jujur yaitu beras 5 Kg/Karung.

Bukan selebaran bantuan, bukan baliho instansi, bukan kamera pencitraan.

Hanya 800 karung beras dengan total 4 ton yang menjadi bahasa paling terang dari ketulusan di tengah duka.

Bantuan datang dalam dua gelombang:

Gelombang pertama: 3 ton beras (600 karung) dibagikan Minggu, 7 Desember 2025

Gelombang kedua: 1 ton beras (200 karung) dibagikan Selasa, 9 Desember 2025

Setiap karung berisi 5 kilogram, dan setiap kepala keluarga dipastikan menerima satu karung tanpa kecuali. Tidak ada daftar panjang, tidak ada verifikasi berbelit. Hanya kepastian bahwa setiap perut akan kembali punya kesempatan untuk bertahan.

Fadilah turun dari mobil dengan pakaian sederhana yang basah oleh angin laut. Para wartawan yang datang bersamanya, biasanya menenteng kamera dan alat pencatat, kini menenteng karung-karung beras.
Punggung mereka basah, tangan mereka memerah, namun wajah mereka menyiratkan semangat yang jarang terlihat pada orang-orang yang biasanya berdiri di balik berita.

“Kami bukan hanya meliput. Kami ingin menjadi bagian dari upaya membangunkan kemanusiaan yang mulai letih di negeri ini,” ujar Komarudin sambil mengangkat dua karung sekaligus.

Belva Al Akhab, Agus, dan Rudi yang biasanya mengejar kutipan narasumber kini justru menjadi kutipan yang hidup tentang solidaritas.

Warga menyambut mereka dengan sorakan kecil, tepuk tangan, bahkan beberapa menyodorkan air minum seadanya. Keringat, lumpur, dan tawa kecil melekat menjadi satu dalam pemandangan yang jarang ditemui dalam tragedi.

RW Kampung Sawah: “Ini bukan bantuan. Ini penghormatan untuk warga kami.”
Ketua RW Kampung Sawah, Abu Hasan (45), berdiri di depan warganya dengan mata berkaca, bukan karena duka, tapi karena kagum.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!