Berita

Pantai Jerangkat Dikepung Ponton Ilegal, Wisata Hancur dan Negara Kehilangan Hasil Tambang

×

Pantai Jerangkat Dikepung Ponton Ilegal, Wisata Hancur dan Negara Kehilangan Hasil Tambang

Sebarkan artikel ini

 

BANGKABARAT, Berita5.co.id – Pantai Jerangkat, salah satu pesisir indah di Desa Ketap, Kecamatan Jebus, Kabupaten Bangka Barat, kini menghadapi ancaman serius.

Kawasan yang semestinya menjadi destinasi wisata andalan itu justru berubah menjadi lautan ponton tambang timah yang diduga sebagian besar beroperasi secara ilegal.

Hasil investigasi di lapangan menunjukkan jumlah ponton yang beraktivitas jauh melampaui ketentuan yang berlaku dalam pola kemitraan dengan PT Timah.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, setiap CV mitra hanya diperbolehkan mengoperasikan maksimal 10 unit ponton.

Di kawasan Pantai Jerangkat disebut terdapat sekitar enam CV yang menjalankan aktivitas penambangan.

Dengan ketentuan tersebut, seharusnya jumlah ponton yang beroperasi hanya berkisar 60 unit.

Namun fakta di lapangan memperlihatkan pemandangan berbeda. Ratusan ponton memenuhi perairan Pantai Jerangkat. Tim investigasi memperkirakan jumlahnya mencapai sekitar 200 unit.

Jika angka tersebut benar, maka terdapat lebih dari 100 ponton yang diduga beroperasi di luar ketentuan kemitraan. Pertanyaannya, siapa yang mengizinkan? Siapa yang mengawasi? Dan ke mana hasil timah dari ponton-ponton tersebut dijual?

Dugaan keberadaan ratusan ponton di luar ketentuan bukan hanya persoalan administratif.

Ini berpotensi menjadi persoalan serius yang menyangkut tata kelola pertambangan, penerimaan negara, hingga dugaan praktik penambangan ilegal yang berlangsung secara terbuka.

“Kalau memang ada ponton ilegal, siapa yang membeli timahnya? Ini yang harus ditelusuri karena berpotensi merugikan negara,” ujar salah seorang sumber kepada tim investigasi.

Pantai Rusak, Wisata Mati Perlahan

Di darat, dampak aktivitas tambang mulai terlihat nyata. Akses menuju Pantai Jerangkat rusak parah. Jalan wisata yang sebelumnya menjadi urat nadi masyarakat kini berubah menjadi kubangan lumpur dan dipenuhi lubang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!