Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim
BANGKA BARAT, Berita5.co.id — Jalan itu sebenarnya masih bisa dilewati. Aspalnya belum benar-benar patah. Belum ada truk yang terjungkal. Belum ada anak sekolah yang jatuh bersama runtuhnya badan jalan. Dari kejauhan, Parit 4 di Desa Sekar Biru tampak seperti dusun biasa di wilayah tambang Bangka Belitung, jalan desa membelah kebun, aliran air berwarna cokelat dan suara mesin yang bekerja hampir sepanjang hari.
Tetapi warga tahu, kehancuran sering datang tidak dengan suara keras.
Ia dimulai pelan-pelan.
Dari retakan kecil di pinggir aspal.
Dari tanah yang perlahan menggantung.
Dari air yang mengikis penahan jalan sedikit demi sedikit.
Dari negara yang kadang datang terlambat, setelah kerusakan lebih dulu tumbuh.
Di Dusun Parit 4, Kecamatan Parittiga, Kabupaten Bangka Barat, ketakutan itu kini hidup hanya lima meter dari jalan raya.
Lima meter.
Jarak yang terlalu dekat untuk disebut aman, tetapi entah mengapa masih cukup jauh untuk membuat tindakan tegas terasa lambat datang.
Di sisi jalan itulah aktivitas tambang inkonvensional timah diduga terus berlangsung. Mesin ponton meraung hampir tanpa jeda. Lumpur hitam naik dari dasar tanah. Air keruh mengalir pelan seperti membawa pesan tentang sesuatu yang sedang rusak perlahan di bawah kaki masyarakat.
Warga menyebut jalan mulai retak sejak aktivitas tambang bekerja terlalu dekat dengan badan jalan.
Sebagian sisi aspal disebut mulai menggantung.
Tanah penyangga perlahan kehilangan kekuatan.
Dan setiap hujan turun, kecemasan warga ikut meninggi.
“Kalau malam hujan deras, kami takut jalan ini ambruk,” ujar seorang warga.
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun di daerah tambang, kalimat seperti itu biasanya lahir dari pengalaman panjang melihat kerusakan yang selalu dimulai dari tanda kecil yang diabaikan.
Pada Minggu sore, 24 Mei 2026, sekitar pukul 15.00 WIB, Unit Reskrim Polsek Jebus akhirnya turun ke lokasi. Dipimpin Kanit Reskrim bersama anggota Unit Reskrim, polisi melakukan penghimbauan kepada penambang inkonvensional jenis “user-user” yang beroperasi di pinggir Jalan Parit 4.
Polisi meminta aktivitas tambang dihentikan.
“Penghimbauan ini kami lakukan untuk menjaga ketertiban, mencegah kerusakan jalan desa dan menghindari potensi kecelakaan akibat aktivitas tambang di pinggir jalan,” ujar sumber dari Polsek Jebus.
Kalimat itu terdengar benar.
Tetapi bagi sebagian warga, himbauan kadang terdengar seperti doa yang dibacakan terlalu dekat dengan ancaman.
Sebab di Parit 4, masyarakat tidak sedang berhadapan dengan kemungkinan kecil.
Mereka hidup berdampingan dengan risiko yang setiap hari terlihat nyata di depan mata.
Jalan itu bukan sekadar fasilitas umum biasa. Ia sebagai urat nadi desa. Anak-anak sekolah melintas setiap pagi. Petani membawa hasil kebun melalui jalur itu. Kendaraan pengangkut sembako keluar masuk desa melewati aspal yang kini mulai membuat warga takut.
Mereka khawatir suatu hari jalan itu longsor bersama kelambanan tindakan.
“Yang kami takutkan jangan sampai menunggu ada korban dulu baru berhenti,” kata warga lainnya.
Di Bangka Belitung, ketakutan seperti itu bukan sesuatu yang asing.
Daerah ini telah terlalu lama hidup dalam hubungan rumit dengan timah. Dari timah, ribuan dapur menyala. Ekonomi bergerak. Banyak orang bertahan hidup. Tetapi dari timah pula, lubang-lubang besar lahir di tanah Bangka. Hutan hilang perlahan. Air berubah warna. Konflik sosial tumbuh diam-diam. Masyarakat kecil berkali-kali ditempatkan sebagai pihak yang pertama merasakan dampak, tetapi terakhir memperoleh perlindungan.












