Berita

Mentok Kota 1.000 Kue Sebagai Branding Wisata dan Branding Sejarah Di Bulan Ramadhan 

117
×

Mentok Kota 1.000 Kue Sebagai Branding Wisata dan Branding Sejarah Di Bulan Ramadhan 

Sebarkan artikel ini

Penulis: Belva Al Akhab dan Satrio

MENTOK, Berita5.co id— Pagi di ruang kerja Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bangka Barat, Fachriasyah, selalu dimulai dengan peta, kalender festival, dan daftar UMKM.

Namun yang paling ia jaga bukanlah angka kunjungan wisata, melainkan aroma kue tradisional yang mengalir dari dapur-dapur warga di Kota Mentok.

Dari ruang sederhana di jantung kota tua itu, Fachriasyah merumuskan strategi besar: menjadikan Mentok sebagai Kota 1.000 Kue yang hidup, bukan sekadar slogan wisata.

“Branding Kota 1.000 Kue adalah identitas masyarakat Mentok. Ramadhan adalah panggung terbaik untuk memperkenalkan warisan kuliner ini kepada Indonesia,” kata Fachriasyah, Senin (23/02/2026).

Pemerintah Kabupaten Bangka Barat melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan kini menggerakkan sejumlah langkah konkret:

Festival Kuliner Ramadhan tahunan

Promosi digital wisata Mentok

Sertifikasi higienitas UMKM kue tradisional

Paket wisata religi dan kuliner

Pelatihan generasi muda pembuat kue

Langkah ini bukan sekadar program promosi. Ia adalah strategi ekonomi budaya.

Media lokal seperti Bangka Pos dan kantor berita ANTARA News sebelumnya mencatat bazar Ramadhan Mentok sebagai magnet wisata yang menarik pengunjung dari Sumatera Selatan hingga Jawa Barat.

Namun Fachriasyah percaya, branding terbaik bukan datang dari baliho.

Ia datang dari dapur.

Sore di Kampung Tanjung, Desa Tanjung, Mentok. Asap tungku arang naik perlahan. Di depan rumah kayu sederhana, Siti Aminah menata kue bangkit, maksuba, jongkong, bolu kojo dan puluhan kue lain yang resepnya diwariskan dari neneknya.

“Kalau Ramadhan, kami bukan hanya jualan. Kami menjaga cerita keluarga,” katanya.

Di kota ini, tepung beras adalah bahasa sejarah. Santan adalah ingatan kolektif. Gula merah adalah harapan ekonomi.

Branding Kota 1.000 Kue lahir dari tangan-tangan perempuan yang memasak sejak subuh.

Fachriasyah menyadari, kekuatan wisata Mentok bukan pada infrastruktur mewah, tetapi pada identitas budaya.

“Kue Mentok adalah sejarah keluarga, identitas kota, dan peluang ekonomi. Jika dijaga dengan baik, ia bisa menjadi ikon nasional,” ujarnya.

Bazar Ramadhan kini menjadi ruang sosial lintas budaya. Melayu, Tionghoa, Jawa, Bugis dan komunitas lain berkumpul menikmati kue tradisional.

Wisata kuliner di Mentok bukan sekadar makan.

Ia adalah perjumpaan sejarah.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Bangka Barat menargetkan Mentok menjadi destinasi Ramadhan unggulan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Strateginya mencakup:

Kalender festival kuliner tahunan

Storytelling wisata sejarah Mentok

Kolaborasi UMKM dan hotel

Promosi digital berbasis konten budaya

Wisata religi jejak pengasingan Bung Karno

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!