Penulis: Belva Al Akhab dan Satrio
MENTOK, Berita5.co.id — Malam Ramadhan di halaman rumah dinas Wakil Bupati Bangka Barat bukan sekadar rangkaian acara.
Ia adalah panggung sunyi tempat sebuah lembaga diuji oleh sejarah kecil apakah kerja mereka benar-benar menyentuh manusia, atau sekadar berhenti di baliho dan laporan.
Di malam itu, ketika 25 warga menerima bantuan, yang hadir bukan hanya paket sembako dan amplop santunan.
Yang hadir adalah narasi besar tentang kepercayaan publik, tentang legitimasi moral, tentang bagaimana kerja zakat harus terlihat, terdengar dan terasa.
Ketua BAZNAS Bangka Barat, Drs. Lili Suhendra NATO, berdiri di tengah kerumunan dengan suara tenang, tetapi tegas. Ia tahu, di zaman yang dipenuhi skeptisisme, kerja sosial harus berbicara melalui bukti.
“Kami tidak ingin zakat hanya menjadi angka di laporan. Kami ingin zakat menjadi cerita tentang manusia yang bangkit kembali. Ketika masyarakat melihat kerja BAZNAS secara nyata, di situlah kepercayaan tumbuh,” katanya, Selasa (23/02/2026).
Kalimat itu bukan sekadar retorika. Ia adalah strategi moral cara BAZNAS Bangka Barat membangun citra melalui kerja nyata.
Sebab dalam dunia pengelolaan zakat, pencitraan bukan berarti propaganda kosong.
Ia adalah transparansi yang dikisahkan, akuntabilitas yang diperlihatkan, dan empati yang dibuktikan.
Dalam perspektif kelembagaan, citra BAZNAS bukan dibangun oleh slogan, tetapi oleh konsistensi distribusi bantuan, keterbukaan laporan dan kehadiran di tengah krisis.
Model ini sejalan dengan arah kebijakan BAZNAS RI yang menempatkan zakat sebagai instrumen pengentasan kemiskinan sekaligus penguat kepercayaan publik.
Dalam buku Zakat dalam Perspektif Pembangunan Nasional, zakat disebut sebagai mekanisme redistribusi ekonomi berbasis iman.
Tetapi di Mentok, teori itu berubah menjadi wajah manusia dimana seorang nenek yang memeluk paket sembako seperti memeluk masa depan.
Seorang penerima bantuan berkata pelan, “Alhamdulillah… masih ada yang ingat kami.”
Kalimat itu menjadi testimoni paling kuat. Ia lebih tajam dari statistik, lebih jujur dari laporan tahunan.
Wakil Ketua bidang pengumpulan, H. Hasyim Baharudin, menegaskan bahwa kepercayaan muzaki adalah napas lembaga.
“Kami ingin ASN dan masyarakat Bangka Barat percaya bahwa zakat yang mereka titipkan benar-benar sampai kepada yang berhak.”












