BANGKA BARAT, Berita5.co.id – Di tengah meningkatnya kasus malaria di Kecamatan Parit Tiga yang telah mencapai 60 orang, Bupati Bangka Barat Markus, S.H., mengambil langkah cepat dengan mengonsolidasikan seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat upaya pengendalian penyakit tersebut. Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari branding kepemimpinan Markus yang menempatkan isu kesehatan masyarakat sebagai prioritas utama pembangunan daerah.
Dalam Pertemuan Lintas Sektor Pengendalian Peningkatan Kasus Malaria dan Sosialisasi Perubahan Peraturan Bupati tentang Jaminan Kesehatan Masyarakat, Markus secara tegas menetapkan target besar, yakni Eliminasi Malaria Kabupaten Bangka Barat Tahun 2026.
“Target kita jelas, eliminasi malaria di Kabupaten Bangka Barat pada tahun 2026. Kita harus memperketat surveilans, mempercepat penemuan kasus, dan memastikan pengobatan dilakukan secara tuntas,” tegas Markus.
Sikap cepat yang ditunjukkan Markus dinilai sebagai bentuk kepemimpinan yang responsif terhadap ancaman kesehatan masyarakat. Di saat peningkatan kasus malaria mulai menjadi perhatian, orang nomor satu di Bangka Barat itu tidak hanya menunggu laporan dari sektor kesehatan, melainkan langsung menggerakkan seluruh kekuatan lintas sektor, mulai dari pemerintah desa, tenaga kesehatan, perangkat daerah hingga unsur Forkopimda.
Bagi Markus, malaria bukan sekadar persoalan medis. Penyakit tersebut juga dapat mengganggu produktivitas masyarakat, menimbulkan kerugian ekonomi, hingga mengancam keselamatan kelompok rentan seperti anak-anak, lansia dan ibu hamil.
“Kesehatan merupakan pondasi utama pembangunan daerah. Masyarakat yang sehat akan mampu beraktivitas secara produktif dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” ujarnya, Senin (13/7/2026).
Karena itu, Markus mendorong penanganan malaria dilakukan secara gotong royong. Menurutnya, keberhasilan pengendalian penyakit menular tidak akan tercapai apabila hanya dibebankan kepada Dinas Kesehatan dan tenaga medis semata.
Dalam arahannya, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk membangun komitmen bersama melalui peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat, pemberantasan sarang nyamuk, serta percepatan penanganan terhadap setiap kasus yang ditemukan.
Langkah tersebut sekaligus memperlihatkan karakter kepemimpinan Markus yang mengedepankan pendekatan kolaboratif dalam menyelesaikan persoalan daerah. Ia menilai ancaman malaria harus dijawab dengan kerja bersama dan tidak boleh dianggap sebagai persoalan sektoral.
Selain fokus pada penanganan malaria, Markus juga memanfaatkan forum tersebut untuk memperkuat sistem perlindungan kesehatan masyarakat melalui sosialisasi perubahan Peraturan Bupati tentang Jaminan Kesehatan Masyarakat. Kebijakan ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam memberikan kepastian layanan kesehatan bagi masyarakat Bangka Barat.
Pengamat pemerintahan menilai, langkah yang diambil Markus dalam menghadapi peningkatan kasus malaria menunjukkan upaya membangun citra kepemimpinan yang hadir di tengah persoalan masyarakat. Di tengah tantangan kesehatan yang muncul, Markus berusaha menempatkan dirinya sebagai pemimpin yang tidak hanya reaktif terhadap masalah, tetapi juga memiliki target jangka panjang melalui program eliminasi malaria pada 2026.
Pertemuan lintas sektor tersebut pun menjadi sinyal kuat bahwa Pemerintah Kabupaten Bangka Barat tengah memasang “alarm bahaya” terhadap penyebaran malaria. Dengan dukungan seluruh elemen masyarakat, Markus berharap Bangka Barat tidak hanya mampu menekan angka kasus, tetapi juga mewujudkan daerah yang bebas malaria dan memiliki kualitas kesehatan masyarakat yang lebih baik di masa mendatang. (B5)












