Penulis: Said Faisal
PANGKALPINANG, Berita5.co.id — Belakangan ini publik disuguhkan berbagai tulisan dan kampanye yang mempromosikan energi nuklir sebagai solusi masa depan Indonesia.
Banyaknya artikel pro-PLTN tersebut menempatkan energi nuklir sebagai simbol kemajuan, bagian dari diplomasi energi global, sekaligus jawaban atas menurunnya pasokan energi fosil.
Sekilas, narasi itu terdengar ideal dan menjanjikan. Namun, di balik citra ilmiah dan argumen strategis yang disajikan, terdapat sejumlah hal yang patut dikritisi.
Sebab, promosi pro-nuklir di Indonesia tampak tidak lagi murni bersifat akademik, melainkan sudah menyentuh ranah pembentukan opini publik yang sarat kepentingan.
Argumen bahwa energi nuklir merupakan jalan strategis menuju kemandirian energi memang menggoda.
Akan tetapi, dalam konteks Indonesia, pendekatan ini justru berpotensi menghadirkan persoalan baru yang lebih besar.
Pembangunan satu unit reaktor PLTN dapat menelan biaya miliaran dolar Amerika Serikat, sementara kemampuan fiskal nasional masih terbatas dan banyak sektor lain yang lebih mendesak untuk dibiayai, seperti pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat.
Ketergantungan terhadap teknologi dan bahan bakar dari luar negeri juga membuka peluang dominasi baru dalam sektor energi nasional.
Dari sisi keselamatan, risiko yang ditimbulkan PLTN tidak dapat diabaikan.
Negara maju seperti Jepang pun masih menanggung dampak panjang dari tragedi Fukushima, padahal mereka memiliki sistem pengawasan dan teknologi yang jauh lebih maju.
Di Indonesia, dengan infrastruktur yang belum sepenuhnya siap dan manajemen risiko yang masih lemah, potensi bahaya akan jauh lebih besar.
Dalam konteks ini, diplomasi energi seharusnya berpihak kepada rakyat, bukan hanya menjadi ajang proyek bergengsi yang menjanjikan keuntungan bagi segelintir pihak.
Sementara itu, Indonesia memiliki sumber daya energi terbarukan yang melimpah.
Tenaga surya, angin, mikrohidro, dan biomassa bisa dikembangkan secara bertahap, terjangkau, dan ramah lingkungan.
Transisi energi bersih tidak harus melewati jalur nuklir yang mahal dan penuh risiko.
Model energi terbarukan berskala kecil bahkan lebih sesuai dengan karakter geografis kepulauan Indonesia yang tersebar dan beragam.
Bahkan fakta terbaru menunjukkan bahwa udang dan cengkih asal Indonesia dikembalikan oleh Amerika Serikat karena terpapar radioaktif Cesium-137 (Cs-137).
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran baru di masyarakat, terutama di Bangka Belitung yang direncanakan menjadi lokasi pembangunan PLTN.
Jika sumber pangan saja bisa terpapar radioaktif, bagaimana nasib masyarakat Babel bila PLTN benar-benar beroperasi di wilayah mereka?
Di tengah derasnya promosi nuklir, muncul dugaan bahwa sebagian kegiatan dan kampanye pro-PLTN dijalankan melalui pola framing berbayar.
Sejumlah sumber menyebut adanya penggunaan mahasiswa dan mahasiswi untuk menggiring opini publik agar seolah-olah dukungan terhadap PLTN datang secara alami dari kalangan intelektual muda.
Dalam beberapa kegiatan, oknum mahasiswa diduga diberi insentif berkisar antara Rp 500.000 hingga Rp1.000.000 untuk menyuarakan narasi positif mengenai PLTN melalui forum dan media daring.












