Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim
BANGKA BELITUNG, Berita5.co.id — Ada sebuah perjalanan yang menarik dari sosok M. Yasir Mustafa, S.Pd.I., M.A.P.
Di satu sisi, ia seorang birokrat. Namanya tercatat sebagai Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Profil resmi Biro Kesra mencatat Yasir bergelar S.Pd.I., M.A.P., berpangkat Pembina/IV.b dan berpendidikan terakhir S2.
Di sisi lain, jauh dari meja birokrasi dan dokumen pemerintahan, hidupnya juga bersentuhan erat dengan dunia dakwah, masjid dan Al-Qur’an.
Ia dipercaya memimpin Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten Bangka periode 2025–2030 setelah memperoleh suara terbanyak dalam Musyawarah Daerah DMI Kabupaten Bangka.
Ia juga berada dalam lingkungan Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Dan pada akhir Agustus 2026, dua dunia yang selama ini berjalan beriringan itu seakan bertemu dalam satu panggung.
Panggung tersebut berada di Sulawesi Selatan.
Namanya kemudian diumumkan sebagai Juara III Nasional Cabang Adzan MTQ VIII KORPRI Tahun 2026.
Ia mengalahkan persaingan sekitar 70 peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Bagi Bangka Belitung, itu bukan sekadar sebuah piala.
Bagi Yasir, kemenangan itu bahkan memiliki cerita yang jauh lebih pribadi.
Sebab, uang hadiah Rp10 juta yang diterimanya tidak berhenti sebagai bonus kemenangan.
Uang tersebut direncanakan untuk membantu biaya pendidikan anaknya yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi.
Di situlah kisah Yasir menjadi lebih manusiawi.
Sebuah azan yang dilantunkan di panggung nasional akhirnya berubah menjadi ikhtiar seorang ayah untuk masa depan anaknya.
Minggu, 30 Agustus 2026.
Sulawesi Selatan menjadi tempat berkumpulnya para peserta MTQ VIII KORPRI Tingkat Nasional.
Sekitar 70 peserta berada dalam satu cabang perlombaan yang sama.
Mereka datang membawa kemampuan masing-masing.
Mereka datang dengan latihan.
Dengan pengalaman.
Dengan teknik.
Dengan harapan.
Yasir datang dari Kepulauan Bangka Belitung.
Tetapi ada satu hal yang membedakan cara ia memandang kompetisi tersebut.
Ia mengaku tidak menjadikan juara sebagai niat awal.
Baginya, azan bukan semata-mata perlombaan.
Azan menjadi panggilan.
Azan menjadi syiar.
Azan menjadi kalimat-kalimat yang sejak lama hidup dalam ruang pengabdiannya.
“Niat awal saya ke Makassar adalah berdakwah dan melantunkan kalimat Allah. Juara tiga ini merupakan nikmat dan berkah yang patut disyukuri,” ungkap Yasir, Rabu (16/9/2026), kepada awak media.
Kalimat itu menjadi kunci untuk membaca perjalanan Yasir.
Ia tidak sedang menceritakan seorang pejabat yang kebetulan memenangkan lomba.
Ia sedang memperlihatkan bahwa kehidupan birokrasi dan kehidupan spiritual tidak harus berjalan pada dua jalur yang terpisah.
Dalam pekerjaannya sebagai Kepala Biro Kesra, Yasir berhadapan dengan berbagai urusan yang berkaitan dengan kesejahteraan masyarakat, kehidupan keagamaan dan pembangunan sumber daya manusia.
Dokumentasi resmi Biro Kesra Babel menunjukkan keterlibatannya dalam sejumlah agenda pembinaan keagamaan dan pembangunan sumber daya manusia. Pada Juli 2026, misalnya, ia mewakili Pemprov Babel dalam penguatan kerja sama dengan Polbangtan Malang untuk pengembangan kompetensi generasi muda di bidang pertanian dan peternakan.
Pada saat yang sama, jalur pengabdiannya di bidang keagamaan juga terus berjalan.
Pada Juni 2026, Yasir terlibat dalam kegiatan pembinaan dan seleksi MTQ Babel. Dalam kegiatan tersebut, ia menyampaikan pandangan mengenai makna juara yang tidak berhenti pada piala, tetapi berkaitan dengan bagaimana Al-Qur’an menjadi pedoman hidup, membentuk hati, akhlak dan langkah seseorang.
Pernyataan itu menarik jika ditempatkan berdampingan dengan prestasinya sendiri.
Sebab beberapa bulan setelah berbicara mengenai makna “juara”, Yasir justru berdiri sebagai salah satu pemenang MTQ KORPRI tingkat nasional.
Namun ia tidak menjadikan kemenangan itu sebagai akhir perjalanan.
Justru sebaliknya.
Jauh sebelum podium nasional itu, Yasir telah menempatkan dirinya dalam kehidupan organisasi kemasjidan.
Pada Februari 2025, ia dipercaya menjadi Ketua DMI Kabupaten Bangka periode 2025–2030 setelah memperoleh 13 suara, sementara pesaingnya memperoleh tiga suara.
Kepercayaan itu membawa Yasir masuk lebih jauh ke ruang pelayanan umat.
Dalam sejumlah kegiatan DMI, namanya hadir bukan hanya sebagai pejabat pemerintahan, tetapi sebagai bagian dari gerakan dakwah masyarakat.
Pada kegiatan safari dakwah DMI Bangka, misalnya, Yasir tercatat memimpin jajaran pengurus dalam kegiatan yang menyentuh langsung masjid-masjid di masyarakat.
Dalam pemberitaan lain mengenai gerakan DMI Bangka, Yasir menggambarkan perjalanan dakwah sebagai sebuah gerakan umat, bukan sekadar kegiatan seremonial.
Potongan-potongan perjalanan itu memberikan konteks terhadap prestasi yang diraihnya di Makassar.
Suara azan Yasir bukan suara yang tiba-tiba muncul pada hari perlombaan.
Ada lingkungan pengabdian yang menyertainya.
Ada dunia masjid.
Ada aktivitas dakwah.
Ada Al-Qur’an.
Ada organisasi keumatan.
Ada pekerjaannya sebagai aparatur pemerintahan yang bersinggungan langsung dengan urusan kesejahteraan rakyat.
Ketika 70 Suara Bertemu di Satu Panggung
Kompetisi nasional selalu memiliki cerita sendiri.
Tidak ada peserta yang datang tanpa persiapan.
Begitu pula Yasir.
Ia harus tampil di hadapan dewan juri dengan membawa karakter suara dan penguasaan irama yang dimilikinya.
Dalam penampilannya, ia menggunakan perpaduan irama Bayati dan Rast.
Dua karakter irama itu menjadi bagian dari cara Yasir menyampaikan azan.
Di hadapan para peserta lain, ia tidak membawa nama pribadi semata.
Ia membawa nama Kepulauan Bangka Belitung.
Hasil resmi yang dipublikasikan pemerintah daerah melalui BKPSDMD Babel mencatat M. Yasir Mustafa sebagai Juara III Cabang Adzan. Pengumuman pemenang dari pemerintah daerah lain juga mencantumkan namanya sebagai Terbaik III dari Kepulauan Bangka Belitung.
Dengan demikian, satu hal menjadi jelas, Dari sekitar 70 peserta yang berlaga, nama Yasir masuk dalam tiga besar nasional.
Itulah angka yang membuat prestasi tersebut memiliki cerita.
Bukan sekadar “Juara III”.
Tetapi Juara III setelah melewati kompetisi nasional yang diikuti sekitar 70 peserta.
Ada bagian lain dari cerita ini yang mungkin justru lebih sederhana daripada panggung kemenangan.
Uang.
Yasir menerima bonus Rp10 juta.
Namun uang itu segera memiliki tujuan.
Pendidikan anak.
Anaknya akan memasuki jenjang perguruan tinggi.
Bagi sebagian orang, Rp10 juta mungkin hanya angka dalam sebuah berita.
Tetapi bagi seorang ayah, uang itu bisa berarti biaya awal perjalanan anak menuju masa depan.
Karena itu, bonus tersebut memiliki arti yang lebih panjang daripada sekadar hadiah lomba.
Ia menjadi bagian dari ikhtiar keluarga.
Piala mungkin disimpan.
Foto kemenangan mungkin menjadi dokumentasi.












