Berita

Kominfo Bangka Barat Membangun Keadilan Digital dari Wilayah yang Terlupakan

55
×

Kominfo Bangka Barat Membangun Keadilan Digital dari Wilayah yang Terlupakan

Sebarkan artikel ini

Kapasitas yang terbatas membuat akses harus dibagi. Kestabilan yang fluktuatif menjadikan koneksi sebagai sesuatu yang tidak pasti. Dalam praktiknya, solusi ini lebih menyerupai upaya bertahan daripada langkah maju.

Sementara itu, pembangunan BTS yang lebih permanen masih berada dalam koordinasi dengan Telkomsel.

Surat-surat telah dikirim, pertemuan telah dilakukan dan peta prioritas telah disusun. Namun seperti banyak proyek pembangunan lainnya, waktu menjadi sesuatu yang sulit diprediksi.

Di balik lambannya pembangunan, terdapat realitas yang jarang dibicarakan secara terbuka yaitu sinyal, seperti banyak hal lainnya, mengikuti logika ekonomi.

Kabel serat optik membutuhkan investasi besar. Operator membutuhkan jaminan keuntungan. Dalam perhitungan itu, wilayah dengan jumlah penduduk sedikit dan daya beli rendah sering kali berada di posisi terakhir.

Desa-desa terpencil tidak hanya jauh secara geografis, tetapi juga jauh dari perhitungan ekonomi.

Di sinilah pembangunan berubah menjadi pertanyaan moral, apakah akses terhadap informasi harus tunduk pada logika keuntungan? Atau ia seharusnya menjadi hak yang dijamin oleh negara?

Indra Cahaya berada di tengah pertanyaan itu. Sebagai kepala dinas, ia tidak hanya berhadapan dengan angka dan data, tetapi juga dengan harapan masyarakat yang terus menumpuk.

Keterbatasan jaringan bukan hanya memperlambat komunikasi, tetapi juga menahan laju kehidupan. Pelayanan administrasi yang kini berbasis digital menjadi sulit diakses. Informasi yang seharusnya cepat menyebar menjadi tertahan. Pendidikan yang mulai bergantung pada teknologi menjadi timpang.

Namun dampak yang paling dalam pada masa depan generasi muda.

Anak-anak di wilayah blank spot tumbuh dalam kondisi yang tidak setara. Ketika anak-anak di kota besar dapat mengakses informasi tanpa batas, mereka harus berjuang hanya untuk terhubung.

“Digitalisasi adalah kebutuhan. Tanpa jaringan, aktivitas masyarakat terganggu,” ujar Indra.

Pernyataan itu tidak hanya menggambarkan kondisi saat ini, tetapi juga memberi peringatan tentang masa depan tanpa akses digital, ketertinggalan bukan hanya kemungkinan, ia menjadi kepastian.

Di akhir wawancara, Indra Cahaya menyampaikan komitmennya untuk terus memperjuangkan pemerataan jaringan. Ia menyebutkan bahwa koordinasi dengan kepala daerah telah dilakukan untuk membawa persoalan ini langsung ke tingkat pusat.

Namun di luar ruang-ruang formal itu, waktu berjalan dengan cara yang berbeda.

Di desa-desa terpencil, tidak ada rapat, tidak ada dokumen, tidak ada istilah “prioritas nasional”. Yang ada hanyalah penantian akan sinyal, penantian akan akses, penantian akan pengakuan bahwa mereka tidak dilupakan.

Di Bangka Barat, sinyal telah kehilangan makna teknisnya. Ia bukan lagi sekadar indikator jaringan, melainkan wajah negara itu sendiri.

Ketika sinyal hadir, ia membawa serta akses, peluang dan harapan. Ketika ia hilang, yang tertinggal bukan hanya keheningan, tetapi juga rasa ditinggalkan.

Indra Cahaya, dalam segala keterbatasannya, mencoba menjahit kembali hubungan yang terputus itu antara desa dan dunia, antara warga dan negara.

Namun hingga hari ini, pekerjaan itu belum selesai.

Selama sinyal masih harus dicari ke tempat-tempat tinggi, selama itu pula pertanyaan akan terus menggema di Bangka Barat, apakah pembangunan benar-benar menjangkau semua atau hanya mereka yang sejak awal sudah dekat dengan pusatnya?. (B5)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!