Berita

Kominfo Bangka Barat Membangun Keadilan Digital dari Wilayah yang Terlupakan

49
×

Kominfo Bangka Barat Membangun Keadilan Digital dari Wilayah yang Terlupakan

Sebarkan artikel ini

Penulis: Belva Al Akhab, Satrio

MENTOK, Berita5.co.id — Di sebuah wilayah yang nyaris tidak terbaca oleh peta kekuatan sinyal nasional, perjuangan itu tidak pernah benar-benar terlihat.

Ia tidak gaduh, tidak spektakuler dan tidak selalu tercatat dalam statistik pembangunan.

Namun di sanalah, di antara desa-desa yang terputus dari arus digital, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Bangka Barat, Indra Cahaya, menjalankan sebuah misi yang lebih menyerupai pekerjaan pembangunan yaitu menghadirkan negara dalam bentuk gelombang yang tidak kasat mata.

Sinyal yang bagi sebagian orang hanya sekadar ikon kecil di sudut layar di Bangka Barat telah menjelma menjadi simbol yang jauh lebih besar.

Ia sebagai batas antara terhubung dan terasing, antara mengetahui dan tertinggal, antara menjadi bagian dari masa depan atau sekadar penonton yang diam.

Dalam wawancara di Gedung Majapahit, Mentok, Senin (20/04/2026), Indra Cahaya tidak menyembunyikan realitas yang dihadapi.

Ia berbicara dengan nada yang lebih menyerupai pengakuan daripada pernyataan resmi bahwa pembangunan digital di Bangka Barat bukan semata soal teknologi, melainkan soal ketimpangan yang telah lama mengendap.

Di atas kertas, solusi tampak sederhana untuk membangun Base Transceiver Station (BTS), menarik kabel serat optik, memperluas jangkauan jaringan.

Namun di lapangan, setiap langkah berubah menjadi persoalan berlapis dengan biaya yang tinggi, geografis yang menantang, serta ketergantungan pada kebijakan pusat melalui Kementerian Komunikasi dan Digital.

“Semua usulan daerah bermuara ke kementerian. Realisasinya sangat bergantung pada prioritas nasional,” ujarnya.

Kalimat itu terdengar seperti prosedur birokrasi. Tetapi di baliknya, tersimpan kenyataan yang lebih getir bahwa ada wilayah-wilayah yang harus menunggu lebih lama hanya karena mereka berada di luar radar prioritas.

Di Desa Simpang Yul dan wilayah Belar, sinyal bukan sesuatu yang dapat dijadwalkan.

Ia datang tanpa pemberitahuan dan pergi tanpa penjelasan. Dalam keseharian warga, telepon genggam bukan alat komunikasi, melainkan benda yang menyimpan harapan yang sering kali tidak terwujud.

Di sebuah rumah sederhana di Belar, seorang ibu menatap layar ponselnya yang kosong dari notifikasi. Ia tidak sedang menunggu pesan penting dari kota besar, melainkan sekadar kabar dari sekolah anaknya.

“Kalau tidak ada sinyal, ya kami tidak tahu apa-apa,” ucapnya pelan.

Kalimat itu sederhana, tetapi menggambarkan jurang yang dalam, jurang antara dunia yang bergerak cepat dan dunia yang tertahan dalam diam.

Anak-anak di wilayah ini tumbuh dengan cara yang berbeda. Mereka belajar bukan hanya tentang pelajaran sekolah, tetapi juga tentang batasan. Untuk mengirim tugas, mereka harus mencari titik tertentu seperti bukit kecil, tepi jalan atau sudut desa yang entah bagaimana “ramah sinyal”.

Di sana, mereka berdiri, menunggu, berharap. Sebuah gestur kecil yang menggambarkan betapa akses terhadap informasi masih menjadi perjuangan.

Menghadapi realitas itu, Pemerintah Kabupaten Bangka Barat mencoba menghadirkan solusi yang tidak biasa membawa internet dari langit. Melalui kerja sama dengan PT Telkom Indonesia, jaringan Wi-Fi berbasis satelit diperkenalkan sebagai jawaban sementara bagi wilayah blank spot.

Namun solusi ini tidak datang tanpa ironi. Ia seperti jembatan yang dibangun di udara menghubungkan, tetapi tidak sepenuhnya kokoh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *