Oleh: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim
BANGKA BARAT, TRASBERITA.COM — Siang itu, sebuah mobil angkutan umum melaju menyusuri ruas jalan yang menghubungkan Mentok, Jebus, hingga Parittiga. Di antara penumpang yang duduk berdesakan, terdapat sosok yang mungkin tidak banyak dikenali penumpang lain. Ia bukan pedagang, bukan pula pekerja yang hendak pulang ke rumah. Pria itu Ketua Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Bangka Barat, Drs. Lili Sunhendra Nato.
Perjalanan tersebut bukan agenda seremonial. Tidak ada penyambutan khusus, tidak ada rombongan kendaraan dinas dan tidak ada pengawalan. Tujuannya sederhana untuk memastikan bantuan sosial bagi warga miskin, lansia dan anak yatim tetap sampai kepada penerima manfaat.
Pilihan menggunakan angkutan umum menjadi simbol dari tantangan yang sedang dihadapi lembaga pengelola zakat itu. Di tengah kondisi penghimpunan zakat, infak dan sedekah (ZIS) yang belum sepenuhnya pulih, setiap rupiah yang terkumpul harus dikelola secara hati-hati agar manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak masyarakat.
“Bagi kami, yang terpenting bantuan sampai kepada mustahik. Efisiensi menjadi bagian dari tanggung jawab dalam mengelola dana umat,” kata Lili saat melakukan penyaluran bantuan di Kecamatan Parittiga, Kamis (11/6/2026).
Pernyataan itu mungkin terdengar sederhana. Namun di baliknya tersimpan sebuah pesan yang lebih besar mengenai bagaimana lembaga sosial harus beradaptasi dengan keterbatasan tanpa mengurangi kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Selama Mei hingga Juni 2026, BAZNAS Bangka Barat menyalurkan bantuan kepada sedikitnya 350 mustahik yang tersebar di sejumlah kecamatan.
Program yang dijalankan tidak hanya berfokus pada bantuan konsumtif jangka pendek, tetapi juga menyentuh kebutuhan dasar masyarakat yang memiliki dampak langsung terhadap kualitas hidup.
Bantuan kesehatan menjadi salah satu program yang mendapat perhatian khusus. Menurut BAZNAS, kebutuhan pengobatan sering kali menjadi beban berat bagi keluarga kurang mampu. Ketika biaya berobat tidak mampu dipenuhi, risiko yang muncul bukan hanya memburuknya kondisi kesehatan, tetapi juga meningkatnya kemiskinan akibat biaya medis yang harus ditanggung keluarga.
Karena itu, penyaluran bantuan kesehatan diposisikan sebagai bagian dari upaya menjaga produktivitas masyarakat.
“Ketika seseorang bisa mendapatkan akses pengobatan yang layak, maka peluang untuk kembali bekerja dan menjalani kehidupan secara normal juga semakin besar,” kata Lili.
Selain sektor kesehatan, BAZNAS juga melanjutkan Program Jadub Berkah Bersama BAZNAS yang menyasar keluarga miskin, lansia dan anak yatim.
Menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, sebanyak 300 mustahik di Kecamatan Mentok menerima santunan yang diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Nilainya memang tidak besar. Namun bagi sebagian penerima manfaat, bantuan tersebut menjadi tambahan penting untuk memenuhi kebutuhan pangan dan kebutuhan sehari-hari.
Di banyak daerah, program bantuan sosial sering dipandang sekadar sebagai bentuk kepedulian. Namun dalam perspektif pembangunan sosial, bantuan yang tepat sasaran memiliki fungsi yang lebih luas.
Bantuan kepada lansia, misalnya, membantu menjaga kelompok rentan tetap memiliki akses terhadap kebutuhan dasar. Sementara santunan bagi anak yatim dapat mengurangi risiko putus sekolah akibat tekanan ekonomi keluarga.
Wakil Ketua II Bidang Distribusi dan Pendayagunaan BAZNAS Bangka Barat, Wasis Utama Edi, mengatakan lembaganya terus berupaya menempatkan dana umat pada sektor-sektor yang memiliki dampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat.
Menurut dia, bantuan kesehatan, pendidikan, dan Program Jadub tetap menjadi prioritas karena berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat.












