Berita

Ketika Warga dan Wartawan Bekerja, Pemerintah Masih Sibuk Berfoto

98
×

Ketika Warga dan Wartawan Bekerja, Pemerintah Masih Sibuk Berfoto

Sebarkan artikel ini

Oleh: Komarudin, Agus dan Tim

MENTOK, Berita5.co.id — Ketika pemerintah daerah kembali menggelar seremoni, rapat koordinasi, dan kunjungan penuh kamera dalam rangka “mengatasi banjir”, warga Kampung Tanjung justru menemukan pertolongan bukan dari meja birokrasi, melainkan dari seorang perempuan bernama Fadilah dan empat wartawan lokal yaitu Komarudin, Rudy, Agus dan Belva yang datang membawa 800 karung beras, bukan spanduk sambutan.

Di satu sisi, Bupati Bangka Barat Markus, S.H., berbicara tentang usulan anggaran Rp300 miliar untuk banjir Mentok–Parit Tiga yang “masih menunggu persetujuan pusat”.

Di sisi lain, lima orang biasa datang tanpa anggaran negara, tanpa protokoler, tanpa daftar penerima bantuan hanya siapa yang lapar, diberi makan.

Dua narasi terjadi pada minggu yang sama.

Yang satu bergerak.
Yang satu berfoto.

Kamis (11/12/2025), Danrem 045/Garuda Jaya melakukan kunjungan ke Kodim Bangka Barat. Suasana yang digambarkan sebagai “dialog santai” oleh Bupati Markus lebih menyerupai panggung seremoni tahunan barisan prajurit, pejabat menunggu aba-aba, dan sesi foto yang rapi.

Markus menegaskan perlunya sinergi keamanan demi mendorong pembangunan, tetapi tak ada satu pun solusi teknis tentang banjir yang puluhan tahun menjadi tamu tetap Mentok.

“Ini hanya bicara-bicara santai dengan beliau,” ucap Markus.

Santai sementara warga Kampung Tanjung sedang menimba air asin dari ruang tamu mereka.

Sementara itu, Pemkab kembali mengumumkan “rencana besar”:
Embung, kajian teknis, dan usulan anggaran Rp300 miliar yang statusnya masih menggantung di Jakarta.

Narasi yang selalu sama:
Musim hujan datang, banjir datang, pemerintah mengusulkan, pusat menimbang, warga menunggu.

Banjir tepat waktu.
Solusi datang seperti tamu yang tersesat.

Minggu dan Selasa (7 dan 9 Desember 2025), tanpa koordinasi, tanpa posko, tanpa spanduk, Fadilah dan para wartawan menembus rob Kampung Tanjung membawa:

Gelombang 1: 3 ton beras (600 karung)

Gelombang 2: 1 ton beras (200 karung)
Total: 4 ton / 800 karung

Setiap kepala keluarga mendapat satu karung beras lima kilogram. Tidak ada sesi foto, tidak ada pendataan rumit, tidak ada “tunggu disposisi”.

Ketua RW Kampung Sawah, Abu Hasan (45), tak mampu menahan tangis.

“Ini bukan sekadar bantuan. Ini penghormatan. Kami merasa sangat terbantu dengan bantuan beras ini” tegas Abu Hasan dihadapan awak media.

Seorang ibu berkata lirih.

“Biasanya wartawan datang dengan kamera. Kali ini mereka datang dengan belas kasih.” ucap ibu dengan nada lirih.

Kalimat yang menampar lebih keras daripada gelombang rob.

Sementara wartawan lain, Komarudin, mengatakan.

“Kami menulis berita setiap hari, tapi hari ini kami justru menjadi beritanya.” jawab Komarudin salah satu wartawan beserta sanak family menjadi korban dampak banjir.

Tak ada dana hibah.
Tak ada APBD.
Tak ada sidang.
Yang ada hanya kaki, peluh, dan karung beras yang dipanggul di tengah air asin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *