BANGKABARAT, Berita5.co.id — Malam bergolak di perairan Bendul beberapa minggu lalu, ketika gelombang tinggi dan angin kencang menghadang sebuah kapal kayu bermuatan puluhan ton timah.
Badai yang seharusnya menjadi musuh nelayan justru menjadi “penyelamat” aparat, karena dari situlah terbongkar salah satu dugaan jaringan penyelundupan timah terbesar di Mentok tahun ini.
Kapal itu—menurut nelayan Desa Mayang dan Sukai—hancur dihantam badai hanya setengah mil dari bibir pantai.
Namun yang membuat warga geger bukan hanya karamnya kapal, melainkan misteri di balik puing-puing yang ditemukan, yakni muatan timah pasir dalam jumlah besar, awak kapal yang sempat hilang, dan jejak pembakaran kapal yang diduga dilakukan untuk menghapus bukti.
Apin, seorang nelayan yang menjadi saksi awal, menceritakan bahwa kapal kayu tersebut sempat terbakar sebelum ditenggelamkan.
“Kapalnya sudah dibakar lalu ditenggelamkan, timahnya dibawa lagi ke gudang. Mereka mau nyelundup, tapi dihantam badai,” katanya.
Menurut penuturan warga, kapal itu bukan sekadar kapal biasa.
Ia disebut-sebut sebagai bagian dari operasi penyelundupan timah ke luar negeri yang digerakkan oleh sosok bernama Ahn, kolektor timah yang cukup dikenal di Mentok.
“Jaringan AHN itu banyak orang sudah tahu, semua warga tahu kegiatan penyelundupan minggu itu,” tambah Apin.
ABK Hilang Semalaman
ErW, nelayan lain, mengingat betul bagaimana malam itu warga panik setelah kabar satu dari lima ABK hilang digulung badai.
“Satu ABK hilang semalaman, besok paginya baru ketemu selamat. Kami warga bantu cari dan angkut timah dari kapal ke mobil. Banyak kendalanya, bahkan mobil truk sempat ‘nyalep’,” ujarnya.
Kisah ini menggambarkan absurditas sebuah operasi ilegal.
Di satu sisi mereka berusaha menutup jejak, di sisi lain warga justru menyaksikan langsung proses evakuasi timah yang mengarah pada terbongkarnya jaringan.












