Berita

Ketika Aspal Tak Pernah Datang, Nurani yang Menambal: Warga Kacung–Baginda Bekerja, Negara Menghilang

32
×

Ketika Aspal Tak Pernah Datang, Nurani yang Menambal: Warga Kacung–Baginda Bekerja, Negara Menghilang

Sebarkan artikel ini

Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim

KELAPA, Berita5.co.id  — Minggu pagi, 14 Desember 2025, jalan kabupaten yang menghubungkan Desa Kacung dengan Dusun Baginda kembali dipijak oleh sejarah kecil yang berulang.

Bukan sejarah peresmian proyek. Bukan pula gunting pita atau baliho wajah pejabat.

Yang hadir hanyalah pasir, sekop, peluh, dan keputusan sunyi warga yaitu jika negara tak datang, kami bekerja sendiri.

Tak ada tender. Tak ada papan proyek. Tak ada logo kementerian.

Yang ada hanya dana swadaya masyarakat, tenaga warga, dan kesadaran kolektif bahwa lubang jalan tak bisa ditambal dengan janji.

Di barisan terdepan berdiri masyarakat yang peduli, seorang pengusaha lokal bernama Acai, serta Kepala Desa Kacung. Mereka tidak sedang menunggu negara tetapi mereka sedang menagihnya.

Fakta lapangan yang terlalu sering diabaikan:

Waktu: Minggu pagi, 14 Desember 2025

Lokasi: Ruas jalan kabupaten Desa Kacung–Dusun Baginda

Pendanaan: Swadaya masyarakat (uang, material, tenaga)

Pelaksana: Warga peduli, relawan desa, pengusaha lokal, dipimpin Kepala Desa Kacung

Tujuan: Tambal sulam darurat agar jalan bisa dilewati tanpa menunggu korban berikutnya

Pagi itu, jalan tampak seperti tubuh tua yang dibiarkan menua tanpa perawatan. Retak, berlubang, dan becek terutama saat hujan turun tanpa kompromi.

Setiap lubang adalah jebakan, setiap genangan adalah ancaman. Namun alih-alih sirene peringatan dari pemerintah, yang terdengar justru suara cangkul menghantam tanah.

Warga datang satu per satu. Tidak membawa spanduk tuntutan, hanya membawa apa yang mereka punya hanya pasir seadanya, tenaga yang tersisa, dan doa agar anak-anak mereka selamat saat berangkat sekolah.

Inilah perlawanan yang sopan tanpa teriak, tanpa makian, tapi sarat makna.

Di tepi jalan, panci besar berisi makanan bersama mengepul. Bukan sekadar sarapan. Ia adalah simbol bahwa di tempat negara absen, solidaritas mengambil alih.

Acai adalah pengusaha wiraswasta yang sehari-hari berjualan untuk hidup. Menyediakan logistik dan material. Tidak dengan pidato, tidak dengan klaim jasa. Ia berdiri bersama relawan, menyatu dengan kerja.

“Saya turun langsung karena jalan di sini banyak berlubang dan sangat bahaya, terutama di musim hujan. Saya tidak terikat politik. Saya hanya warga yang peduli,” kata Acai, singkat, tanpa metafora.

Di desa, pencitraan tak lahir dari poster, tapi dari kehadiran. Acai menolak label politik.

“Kami bukan orang politik atau pemerintahan. Kami hanya membantu semampu kami. Tidak untuk pencitraan, tapi demi keselamatan warga.” tegasnya.

Jawaban itu terdengar sederhana bahkan terlalu sederhana untuk negara yang gemar merangkai jargon.

Tapi di situlah letak ironi paling tajamnya bahwa warga bekerja demi keselamatan, negara bekerja demi laporan.

Sebagai wirausahawan, Acai menyaksikan sendiri dampaknya. Anak-anak sekolah terjatuh dari motor.

Warga terpeleset saat hujan. Jalan ini bukan sekadar aspal tetapi ia adalah urat nadi ekonomi, pendidikan, dan kesehatan. Dan nadi itu berdetak pincang.

Kepala Desa Kacung tidak berdiri di podium. Ia berada di tengah lumpur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!