Berita

Wabup Yus Derahman Bawa Batu Bata Pertama Tugu Perang Ketupat

×

Wabup Yus Derahman Bawa Batu Bata Pertama Tugu Perang Ketupat

Sebarkan artikel ini

TEMPILANG, Berira5.co.id — Di bawah sinar pagi yang redup namun penuh harap, Wakil Bupati Bangka Barat H. Yus Derahman secara resmi meletakkan batu pertama pembangunan Tugu Perang Ketupat di Pantai Pasir Kuning, Desa Air Lintang, Kecamatan Tempilang, Minggu (14/12/25). Momentum ini bukan sekadar tonggak fisik sebuah monumen, tetapi gema narasi budaya yang dilabuhkan oleh pemerintah daerah dan masyarakat adat untuk membingkai identitas, pariwisata dan kekuatan simbolis bersama.

Peletakan batu pertama itu disaksikan oleh unsur pemerintah daerah, tokoh adat, tokoh agama, aparat keamanan, dan ratusan warga yang larut dalam ritual adat serta harapan kolektif tentang masa depan budaya Tempilang.

Perang Ketupat bukan sekadar lempar-menlempar makanan tradisional, melainkan tradisi yang memegang akar sejarah mendalam di pesisir Tempilang. Ritual ini sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat setempat sejak abad ke-19, di mana ketupat diibaratkan sebagai alat simbolik untuk membersihkan kampung, mengusir bala, dan mempererat silaturahmi segenap elemen masyarakat. Tradisi ini berlangsung setiap tahun menjelang bulan suci Ramadan, menjadi pengikat generasi demi generasi untuk berkumpul, saling memaafkan, dan memperbaharui rasa kebersamaan.

Secara filosofis, Perang Ketupat mengandung nilai Sakral yang lebih dari sekadar hiburan semata, tetapi ia adalah ritual pembersihan batin sekaligus pengakuan terhadap leluhur yang dulu menggenggam kehidupan dan keyakinan di Tempilang. Elemen ini menjadi fondasi utama yang kini dipadukan dengan visi modern untuk menempatkan tradisi lokal sebagai aset budaya pariwisata yang bernilai tinggi.

Dalam sambutannya, Yus Derahman mengungkapkan apresiasi kepada panitia Festival Perang Ketupat yang berinisiatif membangun tugu tersebut. Menurutnya, Tugu Perang Ketupat akan menjadi ikon budaya baru sekaligus daya tarik wisata yang mengikat nilai estetika dan sejarah masyarakat Tempilang. Ia menegaskan, pemerintah daerah melihat inisiatif ini sebagai ruang dialog antara tradisi dan pembangunan modern, yang sedemikian rupa dibentuk agar kelestarian budaya menjadi motor penggerak ekonomi kreatif dan pariwisata Kabupaten Bangka Barat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *